15/01/2016

Day 2 : Melihat Lebih Dekat Upacara Rambu Solo', Tana Toraja

Welcome to Lovely Toraja 2015
Jam 5 pagi saya terbangun oleh suara kenek bus yang meneriakkan “Makale !! Makale !!” Ahh rupanya saya sudah sampai di Makale, 15 menit lagi menuju Rantepao. Sambil senyum senyum sendiri saya bergumam bangga pada diri sendiri “Akhirnya, Toraja...” 

Di Rantepao saya sudah punya host fam, yaitu keluarga dari teman saya di Bali namanya Mba Ani. Mba Ani ini orang Toraja, dan dia memang berencana mudik ke Toraja akhir tahun 2015. Mengetahui saya mau liburan ke Toraja, Mba Ani menawarkan saya untuk tinggal di rumah adiknya (Kak Nona) di daerah Sangalla, Rantepao. Satu jalur dengan jalan menuju Kete’Kesu’, objek wisata yang menjadi landmark Toraja, yaitu tongkonan-tongkonan yang berderet rapi di pinggir sawah. Bagi yang belum tahu, tongkonan itu adalah rumah adat khas Toraja yang bentuk atapnya menjulang ke depan. Kalau menjulang ke samping namanya atap bagonjong khas Sumatera Barat hehe.

Sesampainya di perwakilan Bus Alam Indah di Rantepao, saya langsung memesan tiket untuk kembali ke Makassar malam harinya. Untuk yang punya waktu mepet mengeksplor Toraja dalam waktu 12 jam seperti saya, jangan lupa untuk memesan tiket balik ke Makassar begitu sampai di perwakilan Rantepao. Selesai memesan tiket, saya duduk sambil menunggu jemputan. Dan ga begitu lama, Kak Nona pun datang menjemput saya. Kami pun berkenalan sebentar, dan tak lupa saya ucapkan Selamat Natal untuk Kak Nona karena hari itu masih dalam suasana Natal. 

Toraja di pagi hari itu indah banget, bloggie. Perpaduan yang harmonis antara perbukitan karst, sawah, rumah tongkonan, dan diselimuti kabut tipis. Badan saya pun mulai bergidik kedinginan, wajar saja karena Toraja merupakan daerah dataran tinggi. Menyesal rasanya saat itu saya tidak pakai jaket, ditambah dengan angin yang menerpa kulit saya saat dibonceng Kak Nona.

Kabut tipis menyelimuti bukit karst di Toraja
Rumah host fam saya selama di Toraja
Sesampainya di rumah, saya dipersilakan dulu untuk istirahat dan bersih bersih badan. Rangkaian acara Rambu Solo yang ingin saya lihat dimulai pukul 10.00 pagi. Masih ada 4 jam untuk sekedar melepas lelah, dan sarapan. Kak Nona mempersilakan saya buat sarapan sendiri di rumahnya. Kak Nona selalu bilang “Anggap saja rumah sendiri yah”. Saya pun dibawakan 2 butir telur fresh from the oven (baca : pantat ayam), Kak Nona ambil dari kandang ayam di belakang rumahnya. Berasa kaya lagi di game Harvest Moon hahaha !

Sarapan gratis
Selesai makan saya sempatkan dulu jalan-jalan di sekitar kampung untuk menikmati pemandangan. Sebelum saya keluar rumah, Kak Nona berpesan “Kalau parkir motornya hati hati yah, banyak kerbau mondar mandir. Dan kalau mau lihat kerbaunya jangan dekat-dekat” . Menjelang puncak acara Rambu Solo,memang banyak kerbau yang turun ke jalanan. Awalnya saya pikir seseram apa sih kerbaunya kok sampai ditakutin seperti itu. Saya pun langsung tancap gas menuju lokasi utama puncak acara Rambu Solo, tentunya sambil mengingat pesan Kak Nona “Don’t mess with the buffaloes” 

Sesampainya di lokasi, saya memarkirkan motor dengan sangat hati hati supaya ga diseruduk kerbau Toraja yang lalu lalang di sepanjang jalan. Di sana saya melihat ada 2 tongkonan leluhur yang dikeramatkan bagi warga sekitar. Melihat dari susunan tanduk kerbau yang banyak terpajang di depan rumahnya, saya yakin pasti tongkonan ini sudah menjadi saksi banyak upacara adat. Dan di atasnya dipajang tengkorak-tengkorak manusia, yang katanya kita jangan menghitung jumlahnya walaupun dalam hati, dan jangan bergumam tentang tengkorak itu. Karena warga sekitar percaya jika kita membicarakan tengkorak tersebut kita akan menjadi sakit dan lebih buruknya bisa meninggal. Amit amit, saya pun langsung kabur begitu mendengar cerita tersebut dari warga sekitar. Memang sih, 2 tongkonan ini hawanya lebih “greng” dibanding tongkonan-tongkonan lain yang saya temui di jalan dan sedikit membangunkan bulu kuduk saya. Keren.

Venue upacara Rambu Solo' nanti siang

2 tongkonan keramat warga, keren asli.
Motif ukiran di rumah tongkonan Toraja
Susunan tanduk kerbau yang berderet rapi.
Saya pun menyempatkan duduk sebentar di salah satu tongkonan disana sambil melihat orang orang sibuk mempersiapkan untuk acara Rambu Solo' nanti. Wajar rasanya Kak Nona takut sama kerbau yang lalu lalang di sepanjang jalan. Memang kerbau Toraja badannya kekar dan gede banget, udah gitu tanduknya menjulang lancip. Kalau diibaratkan manusia, kerbau Toraja itu seperti orang yang rajin ke gym, kekar dan tegap. Karakteristik kerbaunya pun macam-macam, ada yang kalem jalan lurus-lurus aja, dan ada yang pemberontak. Yang pemberontak ini nih yang ditakutin, karena dia emang terlihat gelisah dan jalannya sempoyongan. Bisa saja sewaktu waktu si kerbau nyeruduk ke segala arah. Memang sih, setiap kerbau ada satu orang yang memegang talinya, tapi kalau kerbau ngamuk ? Saya yakin orang yang pegang talinya juga bakal keseret haha. Saya pun jadi takut untuk ke parkiran motor melihat ada satu kerbau yang gusar di tengah jalan, naik motor di sebelah kerbau ngamuk rasanya juga bukan ide yang tepat. Akhirnya saya terpaksa sabar menunggu si kerbau ngamuk jalan agak jauh dahulu, sebelum saya melanjutkan perjalanan.





Setelah puas melihat kesibukan warga dan sedikit ngobrol dengan mereka, saya pun melanjutkan perjalanan untuk melihat pemandangan sekitar. Serius, disini itu indah banget. Hamparah sawah berpadu dengan rumah tongkonan. Benar-benar pemandangan yang ga akan bisa dilihat di tempat lain selain di Toraja. Sambil mengendarai motor, saya merasa terharu bisa sampai di tempat impian saya. Sekali lagi, Alhamdulillah.

Tongkonan dan sawah perpaduan yang indah banget
Heaven...
Puas berjalan jalan, saya pun kembali ke rumah Kak Nona. Sesampainya di rumah, suami Kak Nona langsung mengajak saya untuk berjalan kaki menuju ke rumah almarhum.Fyi, suami Kak Nona juga bertugas saat upacara Rambu Solo' ini. Di rumah itulah berawal rangkaian prosesi Rambu Solo’, yaitu dimulai dengan memindahkan jenazah dari tempat dibaringkan menuju ke tongkonan yang nanti akan diarak warga menuju ke lokasi diadakannya puncak acara. Mulai dari sini, saya akan ditemani dengan teman baru saya Epi, dia adalah keponakan dari Kak Nona.

Suasana di rumah almarhum, sebelum jenazah diarak.
Setiap bulan Desember di Toraja, disebut dengan Lovely December. Karena pada bulan ini lah banyak keluarga yang akan pulang ke Toraja untuk merayakan Natal dan Tahun Baru. Selain itu, pada momen keluarga berkumpul ini lah, upacara-upacara adat yang besar akan diselenggarakan. Di antaranya adalah Rambu Solo’. Rambu Solo’ adalah upacara kematian (pemakaman) warga Toraja dengan tujuan untuk menghantarkan arwah orang yang meninggal dunia menuju alam roh. Upacara Rambu Solo’ disebut sebagai upacara penyempurnaan kematian. Jika ada keluarga yang meninggal dan belum dibuatkan Rambu Solo’ maka belum dianggap mati, hanya dianggap sakit saja. Sehingga akan tetap diperlakukan seperti orang hidup, diberi makan dan minum. Oleh karena itu, upacara Rambu Solo’ merupakan upacara yang sangat penting bagi warga Toraja. Upacara Rambu Solo' identik dengan kerbau. Kerbau yang digunakan pun jumlahnya sangat banyak. Rambu Solo’ yang saya datangi kali ini menggunakan 35 kerbau hitam, dan ada 1 kerbau belang (tedong bonga) yang sangat terkenal dari Toraja. Satu ekor kerbau hitam biasa mencapai harga 30 juta, sedangkan satu ekor tedong bonga bisa dihargai hingga seharga satu mobil Alphard, tergantung motif belangnya. Baiklah, saya pun hanya bisa menelan ludah mendengarkan penjelasan mereka sambil membayangkan betapa banyaknya uang yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan upacara ini. Bahkan menurut mereka, jumlah 30 ekor kerbau masih dianggap normal, ada yang sampai menggunakan ratusan ekor itu baru bisa dikatakan “banyak”. Sehingga rasanya tidak heran kalau ada ungkapan: “Orang Toraja mengumpulkan uang banyak untuk mati”. Merupakan suatu kehormatan bagi diri saya bisa menyaksikan upacara adat yang terbilang langka ini (karena hanya diselenggarakan pada waktu tertentu).Upacara Rambu Solo’ memang menjadi incaran para turis yang berkunjung ke Toraja. Sesekali saya melihat bule di antara kerumunan dan saya harus bersaing dengan wartawan untuk mengambil foto dengan jarak yang terdekat, yah walaupun saya tetep kalah juga dengan mas-mas wartawan. Saya bangga jadi orang Indonesia dengan kekayaan budayanya. Yeah ! (mendadak nasionalis).

Berfoto dengan gadis penyambut tamu. Naksir banget sama bajunya ! Toraja abis.

Di peti bulat merah itulah letak jenazahnya, konon emas yang digunakan adalah emas asli.
Lautan manusia dengan pakaian hitam, untung saya juga pakai baju hitam.
Dari rumah almarhum, kami harus berjalan kaki sambil mengarak jenazah menuju lokasi puncak acara. Waktu itu jaraknya tidak terlalu jauh, hanya saja kontur perbukitan Toraja yang naik turun memang membuat nafas sedikit tersengal-sengal, terkadang baru dapat 5 langkah saja para pengusung tongkonan jenazah berhenti karena kelelahan. Seru sekali suasananya, terkadang mereka berteriak mengeluarkan yel yel untuk saling menyemangati. Semangat mas mas Toraja ! Aku padamu ! Tapi di antara kerumunan orang, jangan lupa untuk melihat kebawah karena banyak sekali ranjau darat dari si kerbau yang bertebaran di jalan. Pada saat proses mengarak ini, kerbau berada di barisan terdepan untuk “mengantar” jenazah.

Ranjau darat


Sesampainya di lokasi utama, kami semua dibagikan air mineral gelas. Ga peduli pengisi acara atau hanya wisatawan yang ingin melihat, kami semua diberi air minum. Bahkan ada satu tongkonan yang berisi berkardus-kardus air mineral, kalau haus silakan langsung ambil saja. Warga di Toraja ini sudah sangat terbuka dengan kehadiran wisatawan yang ingin melihat upacara Rambu Solo’.


Kemudian saya mendengar ada suara-suara tanda bahwa tongkonan jenazah akan segera memasuki lapangan. Diawali dengan tarian petarung, tongkonan jenazah pun masuk ke dalam lapangan.

Fyi, di sebelah kiri ada pemuda-pemuda yang menggunakan sarung putih diselempangkan
Itu adalah cucu dari almarhum. Ganteng-ganteng !
Kerbau belang alias Tedong Bonga seharga mobil.
Setelah tongkonan jenazah memasuki lapangan, prosesi selanjutnya adalah memasukkan jenazah ke dalam rumah tongkonan tempat jenazah dibaringkan selama acara berlanjut sampai dikuburkan. Pada saat proses ini, semua orang berebut ingin mengambil gambar, tak terkecuali saya.

Prosesi memasukkan jenazah ke rumah tongkonan.
Setelah jenazah dimasukkan ke dalam rumah tongkonan, pembawa acara pun mempersilakan para tamu untuk beristirahat dahulu. Saat itu pula lah, saya dan Epi kembali pulang. Karena waktu saya sangat mepet di Toraja, sedangkan saya belum sempat eksplor wisata di Toraja. Jika ingin menyaksikan rangkaian upacara dari awal sampai selesai butuh waktu sampai 3 hari bahkan seminggu. Bocoran dari Epi, sore nanti akan diadakan adu kerbau. Sebelum kerbau-kerbau disembelih, diadu dahulu. Acara ini disebut dengan Ma’ Pasilaga Tedong. Saya berharap jika masih ada waktu, saya bisa melihat acara tersebut. Saya sangat bersyukur bisa menyaksikan rangkaian upacara Rambu Solo’. Ini merupakan sebuah keberuntungan. Karena menyaksikan Rambu Solo’ merupakan impian wisatawan yang mengunjungi Tana Toraja. Sejujurnya 12 jam itu waktu yang super duper singkat. Jika saya punya waktu, tentunya saya akan lebih lama tinggal di Toraja. Toraja, land of the heavenly kings.

No comments:

Post a Comment