19/01/2015

Jelajah Tanah Flores & Timor Day 4 (Kampung Besikama, Kab. Belu, Timor)

Selasa, 23 Desember 2014

Udah hari ke 4 perjalanan saya di tanah timur Indonesia. Kesan saya selama 4 hari disini adalah, indah banget alamnya. Seperti kata seseorang, sama halnya dengan matahari, Indonesia itu terbitnya juga dari timur. Setuju banget.

Semalem sebelum tidur, saya dipesani Yance untuk tidak bangun siang. Karena hari ini adalah hari terakhir saya di kampung, jadi harus dimaksimalin jalan jalannya.Seperti janji Yance di hari sebelumnya, pagi ini saya akan ke rumah Mama Morin untuk melihat kampungnya pagi hari. Setelah itu, saya diajak melaut oleh Bapak Jonas, melihat bapak ambil ikan indosiar kesukaan saya, dan sorenya Yance ngajak saya keliling keliling naik motor lihat sekitar Besikama.

Pagi itu saya terbangun jam 7 pagi, udaranya seger banget. Saya segera mencuci muka saya di sumur supaya ga malu sama para mama di dapur, anak gadis jam segini baru bangun haha. Selesai cuci muka dan sikat gigi, saya segera ke dapur untuk melihat mama menyiapkan sarapan. Pagi itu, sarapan saya adalah pisang rebus yang kemudian dibakar dan jagung rebus ala Besikama. Sepintas saya lihat, jagung disini berbeda dengan jagung yang biasa saya lihat. Bulirnya jauh lebih besar dan berwarna pucat seperti jagung muda, tapi ketika saya coba, keras seperti jagung tua. Selain direbus, jagung ini dibuat jadi  jagung bose. Jagung bose sepintas bentuknya seperti kolak dengan campuran kacang hijau, Yance bilang ini adalah favorit orang disini. Saya pikir jagung bose ini manis seperti kolak, namun setelah saya coba rasanya cenderung tawar. Saya tertipu. Kemudian saya menjajal pisang rebus yang dibakar, rasanya asam, berbeda dengan pisang di jawa ataupun pisang cavendish. Kata kakak Nandi (ipar Yance) pisang ini hasil kebun. Bahkan semua yang kami makan di meja saat ini adalah hasil kebun.

Pisang bakar & jagung rebus
Jagung bose
Setelah mencicip sedikit, kemudian Yance menyendokkan sesendok sayur jagung bose ke piring saya. Kemudian saya makan sedikit sedikit, karena saya sedikit asing dengan rasanya yang tawar. Dan Yance makan dengan lahap sekali, sambil sesekali berkata "Ini enak banget tau..". Kemudian mama membawakan kami sepiring ikan indosiar goreng panas yang baru matang, "Makan sudah pakai ini" mama berkata. Jyaaahh, pantesan rasanya jagung bose tawar, ternyata emang harus dimakan pake lauk kaaan. Ga nunggu lama, saya langsung mencomot ikan indosiar yang masih panas itu ke piring saya. Saya mencoba jagung bose dimakan dengan ikan goreng itu, cukup memperbaiki rasanya karena ada rasa gurih dari ikan goreng. Jadi rupanya jagung bose ini semacam pengganti nasi, bukan serupa dengan kolak. Ahh, saya salah tafsir hahahaha.

Selesai sarapan saya diajak Yance untuk berkeliling kampung dan sekalian mampir ke rumah mama Morin, karena saya pengen liat kampung tradisional disini. Kami berjalan ga terlalu jauh untuk sampai ke rumah mama Morin, sama seperti kemaren malam. Tapi kali ini ditemani panasnya Besikama yang lumayan menusuk kulit, sehingga saya memilih berjalan di pinggiran saja di bawah naungan pohon. Sesampainya di kampung mama Morin, saya langsung takjub. Kampung mama ini seperti kompleks pemukiman tradisional yang rumahnya lucu lucu dan kecil kecil.




Rupanya begini nampaknya perumahan di kampung mama Morin kalo siang hari, suasananya sepi banget dan damai. Kemudian kami langsung menuju rumah mama Morin. Mama mau ke sumur ngambil air, tapi begitu melihat kedatangan kami, mama langsung balik lagi dan menjamu kami. Saat mama diajak foto bersama, mama malu katanya belum mandi dan cuma pake kaos kutungan aja. "Janganlah foto sama mama, mama belum mandi, pakai baju jelek begini" Padahal saya juga ga pake baju "bener" cuma pake piyama aja.

Foto sama mama Morin di depan rumahnya
Pintu masuk rumah tradisional

Setelah cukup lama kami disana berbincang dengan para mama dan foto foto, kami pun pamit pulang karena masih ada beberapa rencana jalan jalan lagi. Mumpung hari terakhir, maka dimaksimalin jalan jalannya. Sebelumnya, pamit juga sama mama Morin, kalo kami mau pulang ke Kupang besoknya tanggal 24 Desember. Ada warna kekecewaan dari para mama saya pulang di malam natal.

Siang itu saya habiskan mendinginkan badan di depan kipas angin sambil makan buah buahan yang langsung dipetik dari pohonnya.
Sepupu Yance yang lincah banget manjatnya
Rumah di siang hari
Buah jambulan atau buah duwet kalo orang Jawa menyebutnya
Mama lagi menenun
Mama lagi bikin motif
Benang benang inilah yang nantinya jadi selembar kain
Mulai menghitam
Seharusnya siang ini saya pergi ke laut untuk melihat bapak melaut ngambil ikan. Tapi kendalanya adalah sebelumnya kami sewa motor sama salah satu tetangga, tapi motor yang kami tunggu tunggu ga kunjung dateng sampe saya bosen banget nunggunya. Kalo udah keburu sore nanti keburu bapak pulang melaut, saya jadi ga bisa liat aksi bapak deh. Dan ternyata bener, motornya dateng kelewat sore, dan pas banget bapak udah pulang melaut. Begitu saya dan Yance bersiap siap mau berangkat, pas banget bapak dateng. Jyaaaahhhh. Bapak cerita seharusnya siang tadi dia udah selesai dan ditawarin nebeng pulang sama temennya naik pick up, tapi bapak ga mau ikut pulang soalnya mau nungguin saya dan Yance, bapak kasian kalo nanti kami udah nyampe sana eh si bapak udah pulang. Tapi ternyataaaaaaa, saya dan Yance ga dateng dateng, alhasil bapak harus jalan kaki lumayan jauh dari laut ke rumah. Bapak, maaf :(

Baiknya, bapak ga marah dan malah ngerasa ga enak karena saya ga bisa ikut bapak melaut. Seharusnya saya yang harusnya minta maaf bapak, hiks. Untuk mengobati kekecewaan saya, bapak memamerkan hasil tangkapannya,"Bapak tadi dapat ikan hiu, nona" kata bapak sambil mengeluarkan ikan berwarna abu abu itu dari karung. Kemudian saya yang lebay langsung "wah woh wah woh" liatin hiu itu ditangkap bapak."Bapak, bukain mulut hiunya, pengen liat giginya" seru saya. "Bapak, pegang dikit dong hiunya." dan blah blah blah lainnya dan segala kenorakan saya. Saya sedikit ngerasa bersalah sama kampanye "Save Sharks, sharks are not food" Yah mau gimana lagi, hiunya sendiri yang nyamperin pukatnya bapak. Bisa aja pembelaannya hahaha. Setelah memamerkan ikan hasil tangkapannya, bapak lanjut dengan memamerkan madu hasil tangkapannya juga. Seketika begitu dibuka karungnya, lebah lebah yang masih menempel di sarangnya beterbangan kesana kemari. "Nona, nanti bawa madu ini buat bapak dan ibu di rumah ya" kata bapak kepada saya. Terima kasih banyak, bapak.

Bapak menunjukkan hiu hasil tangkapannya
Hiu kecil yang malang
Ikan hasil tangkapan bapak hari itu
Bapak lagi keluarin madu hasil tangkapannya
Madu asli nih bloggie, yumm
Senja Terakhir di Besikama

Setelah pamer hasil tangkapan bapak, bapak menyuruh saya untuk jalan jalan soalnya udah keburu sore dan motornya udah dateng, sayang kalo ga dipake. Untuk mengobati kekecewaan, Yance mengajak saya pergi ke laut, hanya untuk sekedar melihat lautnya aja. Capcus, setelah pamit dengan orang rumah, kami lanjut jalan jalan keliling kampung dan menuju laut. Yeay !! Jalanan di kampung ini seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, bergelombang parah, sehingga selama di atas motor rasanya saya terguncang guncang. Kata Yance ini bisa jadi terapi perontokan lemak, ya kali. Pemandangan menuju laut indah banget, cocok buat dijadiin tempat prewedding hahaha. Yance juga banyak cerita tentang "kebun laut", kebun laut ini tadinya adalah laut, tapi karena airnya surut dan akhirnya jadi daratan dan dimanfaatkan para penduduk untuk dijadikan kebun. Kebanyakan para penduduk ke kebun laut adalah untuk mencari kayu bakar, karena kayu bakar yang kualitasnya paling baik ada di kebun laut ini.

Indah banget
Kebun laut, liat para mama yang sedang membawa kayu bakar di atas kepala
Kemudian Yance memberhentikan motornya dan menyuruh saya untuk teriak sekencang kencangnya. Udah berasa kaya di ftv ftv aja adegan beginian hahaha. Kemudian saya mencoba untuk berteriak sekencang kencangnya, rasanya plong banget. Ini salah satu senja terindah saya, senja di Besikama.
 Setelah puas menikmati pemandangan sambil teriak teriak kaya orang nyasar, kami melanjutkan perjalanan ke laut. Akhirnya saya menemukan ada kampung juga di daerah antah berantah begini, inilah kampung nelayan. Tapi salah satu nelayan menasehati kami untuk ga menuju laut karena hari sudah sore dan jalan menuju laut sedang ga baik, penuh lumpur. Yah, sedikit kecewa karena saya ga bisa melihat laut di Besikama. 


Melihat sagu yang lagi dijemur
Setelah puas berjalan jalan , kami segera kembali ke rumah karena hari mulai sore dan gelap. Sesampainya di rumah, Mama Melly minta diantarkan ke rumahnya. Rumah mama Melly cukup jauh, jadi harus diantar motor atau biasanya mama menggunakan ojek. Berhubung lagi ada yang nyewa motor, mama Melly minta diantarkan pulang. Awalnya Yance menyuruh saya tinggal di rumah saja, tapi karena saya belum puas jalan jalannya, saya maksa mau ikut dengan boncengan bertiga hahaha. Akhirnya Yance setuju kami boncengan bertiga dengan mama Melly. Rasanya boncengan bertiga di jalan yang bergelombang itu seru plus tegang, bahkan saya sesekali tertawa karena saking serunya. Perjalanan menuju mama Melly ditemani sunset yang indah banget, ditambah sepinya jalan raya di Besikama ini membuat suasana makin syahdu dan indah.

Kapan lagi ada jalan raya sesepi ini
Senja di Besikama, Belu Timor NTT
Lonely house
Groofie bertiga sambil ditemani cahaya senja
Akhirnya sampai juga di kampung mama Melly, tapi sayang mama Melly ga membolehkan kami mengantarnya sampai ke rumah. Karena mama takut ada rampok yang mencegat saya dan Yance, karena perampok tau mana pendatang dan mana orang asli. Serem juga ya ternyata di daerah sini masih rawan perampokan. Setelah itu kami berpamitan dengan mama, sekalian ijin pamit besok pagi kami akan kembali ke Kupang. Bye mama !!

Saya sampai di rumah sudah gelap, kemudian saya langsung mandi ditemani cahaya lilin supaya saya ga takut gelap. Selesai mandi, kami semua makan malam dengan lauk ikan hiu kuah asam hasil tangkapan bapak. Malam itu pula lah saya tau makanan tradisional masyarakat sini yang bernama "akar bilang", ini adalah makanan khas Belu yang berupa lempengan sagu pipih yang dicampur dengan kelapa, teksturnya kenyal dan rasanya gurih. Akar bilang ini bukan cemilan, tapi adalah pengganti nasi dan teman minum kopi. Bapak makan akar bilang ini dengan lauk ikan hiu kuah asam. Saya hanya mencoba sedikit saja akar bilang ini, karena sejak kejadian makan jagung bose itu saya jadi lebih berhati hati dalam memilih makanan. Fyi, perut saya mules luar biasa setelah makan jagung bose, kata mama emang kalo buat yang ga terbiasa makan jagung disini perutnya bakal sakit. Haha, saya lemah banget.

Malam itu saya banyak ngobrol dengan ba'i dan bapak, semacam malam perpisahan. Malam itu walaupun hujan deras dan mati lampu, kami tetap mengobrol panjang lebar ditemani cahaya lilin. Kehangatan keluarga ini membuat saya betah berlama lama, sehingga rasanya untuk tidur pun sayang banget. Saya ingin menghabiskan sisa waktu saya di kampung ini dengan sebaik baiknya. Kami ngobrol tentang banyak hal, tertawa bersama, cerita sedih bersama. Hingga akhinya jam 12 ba'i dan bapak pamit pulang supaya saya dan Yance bisa beristirahat karena besok akan kembali ke Kupang.

Fyi, seharusnya malam itu seluruh anggota keluarga dateng sama halnya kaya penyambutan saat saya pertama kali datang. Tapi ternyata keluarga yang lain mengira Yance becanda mengatakan akan pulang pada malam Natal, mereka ga mengira Yance pergi di malam Natal. Sekali lagi, saya merasa bersalah menculik Yance. Dan keesokan harinya setelah kami di atas bis, kami menelepon semua anggota keluarga dan pamit pulang. Mereka tampak kecewa sekali karena pada malam terakhir kami di kampung mereka ga dateng, karena mereka pikir Yance bercanda akan pulang tanggal 24 Desember. 

12/01/2015

Jelajah Tanah Flores & Timor Day 3 (Kampung Besikama, Kab. Belu, Timor)

Senin, 22 Desember 2014

Seharian Jadi Orang Timor

Pagi itu saya terbangun agak siang, karena malemnya saya tidur cukup larut sekitar jam 1 pagi. Maklum, buat bisa tidur di tempat baru agak susah buat saya. Ditambah hawanya cukup panas, ga tau kenapa daerah Timor ini panasnya udah berasa matahari di ubun ubun (ya kaliii di Padang Mashyar) hahahaha. Tapi karena kebaikan mama dan kakak disana, kamar saya mendadak dibuatin jendela dan dipasangan kipas angin. Mereka cekatan banget, saya aja sampe takjub. Makasih mama dan kakak.

Sekitar jam setengah 9 pagi saya baru keluar kamar, dan di dapur para mama langsung menyambut saya "Pagi, gimana tidurnya ?" sambil menyiapkan sarapan untuk saya. Sarapan saya pagi itu adalah "pisang ramas" dan secangkir teh hangat. Pisang ramas itu, pisang yang diremes sama tepung trus digoreng, semacam pisang goreng tapi pisangnya dihacurin gitu. Ahh nikmatnya pagi di pedalaman Timor. Udaranya seger banget bloggie, dan sejuk maksimal. Apalagi ditemani host fam saya selama di Timor ini. Beda kalo siang, pagi disini anginnya masih rajin berhembus, kalo siang mah boro boro, panasnya maksimal banget. Fyi disini banyak banget anjing, ada kira kira sekitar 5 anjing suka nongkrong di dapur. Dan kalo saya mau ke dapur, para mama cekatan ngusir anjing anjing itu karena tau saya paling takut sama anjing. Mereka baik banget pokoknya, sumpah. Selesai sarapan saya mencuci baju yang pake kemaren, biar ga banyak banyakin baju kotor di tas. Seru banget deh nyucinya, pake nimba air dulu, trus nyuci beralaskan rumput. Saya malah keasikan main air daripada nyuci baju hahaha.

Menu sarapan, pisang ramas dan teh hangat
Dapur tradisional di kampung
Rumah di pagi hari, segeerrrrrrr
Hari ini rencananya kami sekeluarga mau berkunjung ke rumah bapaknya Yance, Bapak Jonas. Jangan tanya kenapa mereka pisah rumah, emang lagi ada masalah keluarga, tapi sejauh ini saya lihat mereka rukun aja. Sebelum berangkat, mama nyiapin semua keperluan selama perjalanan. Fyi, perjalanan ini jalan kaki lho bloggie, jauhnya sekitar 3km dan udara siang mulai mengigit. Saya parno aja kalo tiba tiba pingsan di jalan karena kepanasan (lebay) makanya saya makan pisang sebanyak mungkin yang disediain mama di kamar saya sejak kedatangan saya, semacam welcome fruit hahaha. Setelah mempersiapkan diri, saya dan rombongan mulai berjalan ke rumah Bapak. Biar ga kepanasan, mama ngasih saya payung trus saya dibawain air mineral 1,5 liter. Fyi, selama di kampung, Yance nyuplai air mineral satu kotak buat keperluan kami minum. Yance bilang sih air masak di kampung rasanya ga enak, ada after taste nya gitu. Saya pun penasaran dan nyoba, emang bener rasanya ga enak, ada rasa getir setelah nelen. Sejak itu saya setuju sama Yance hahaha.

Perjalanan ke rumah Bapak banyak pemandangan yang asik banget. Kaya rumah rumah beratapkan jerami ala ala rumah tradisional gitu. Pokoknya banyak banget pemandangan superb selama perjalanan saya ke rumah Bapak. Yance nenangin saya yang heboh sendiri liat rumah rumah tradisional itu "Nanti bapak rumahnya juga gitu, puasin lah foto disana". Jarak satu rumah dengan rumahnya itu jauh jauh bloggie. Terpisahkan tanah lapang yang luas, hutan sagu, dan pohon pohon kelapa. Bener bener pemandangan yang ga pernah saya temuin sebelumnya, sekalipun di desa di Jawa yah. Bahkan beberapa kali kami harus melewati semak semak yang rumputnya setinggi badan. Saya mulai parno aja sama ular, ulet, dan segala macem binatang aneh yang hidup disana. Perjalanan sejauh 3 km dengan cuaca yang panasnya ga tanggung tanggung, ga terasa karena selama perjalanan mata saya dimanjakan oleh pemandangan yang indah banget. Subhanallah



Sesampainya di rumah bapak, saya seneng banget liat pohon buah kersen (beberapa orang menyebut juga dengan buah ceres) yang banyak banget buahnya yang mateng. Keponakan keponakan Yance pun langsung manjat ngambilin buahnya begitu tau saya suka banget sama buah kersen. Makasih yah. Di kampung ini semuanya bisa didapet dengan mudah, kalo pengen nyemil buah bisa langsung petik. Dan sejauh ini yang saya lihat mereka ga pernah ke pasar untuk beli makanan, karena disini melimpah. Jagung ada, sagu ada, ikan ada, pepaya ada, pisang ada, daun singkong ada. Fyi, disini nasi bukan makanan pokok, mereka lebih suka sagu dan jagung.

Keponakan Yance yang jago banget manjat pohon
Buah kersen yang legit menggigit
Setau saya di rumah bapak nanti akan ada beberapa ritual adat. Saya sebenernya kurang ngerti apaan. Karena saya ga ngerti apa yang mereka bicarakan, Yance cuma ngasih tau garis besarnya. Saya menunggu di teras sambil menikmati angin siang yang sepoi sepoi. Di rumah bapak ini sejuk banget bloggie, anginnya ramah banget berhembus, dan rumah bapak ini teduh banyak banget tanamannya. Dan yang lebih enak lagi adalah, sambil minum kelapa fresh from the tree, syurgaaaa. Bapak manjat sendiri pohon kelapa untuk kami minum. Bapak juga bikinin sendok untuk nyungkil buah kelapanya dari batok kelapa. Ohh, nikmat mana yang kau dustakan ?


Kelapa fresh from the tree lengkap dengan sendoknya
Saat mendekati jam makan siang, saya dipanggil oleh Mama Bui, disuruh masuk ke dalam rumah bapak, untuk membantu masak. Rumah bapak ini tipikalnya seperti rumah panggung tradisional yang pendek dan kecil. Dimana seluruh kegiatan dilakukan disana, memasak dan tidur pun dilakukan di satu tempat. Dan di dalam rumah itu kita ga bisa berdiri secara sempurna, harus sedikit menunduk karena rumah bapak ini langit langitnya rendah. Saya yang ga tahan dengan asap kayu bakar pun menolak dengan halus untuk masuk ke dalam rumah yang dipenuhi dengan asap yang mengepul. Ditambah di dalam rumah para mama lagi menyembelih ayam, dan seketika saya melihat ayam itu lagi meronta ronte sambil berlumuran darah. Oh my God, darah. Dijamin saya ga akan mau makan ayam itu karena saya liat proses pembunuhannya. Maafkan saya Mama Bui. Saya pun kembali bergabung dengan anggota keluarga lain di teras sambil menikmati angin sepoi sepoi.


Saat makan siang pun tiba, saya dan Yance dipanggil mama untuk masuk ke dalam rumah untuk melakukan sedikit ritual. Saya pun ga ngerti ini semacam ritual apa. Yang jelas di hadapan saya terhidang nasi dan ayam rebus (fyi, saya paling benci ayam rebus, apalagi tadi liat pembunuhannya). Yance pun berbisik
"Nanti pas makan diem ya, ga boleh ngomong sedikit pun"
"Tapi aku ga suka ayam rebus"
"Udah makan aja"
"Kalo muntah ?"
"Makan aja udah.."
"Kalo keceplosan ngomong ?"
*dikeplak Yance*
Akhirnya setelah mengakhiri percakapan aneh sebelum makan, ritual pun dimulai. Yance disuapin ati ayam rebus oleh Mama Bui. Dalam hati saya berdoa "Mama, jangan suapi aku hati ayam. Hati ayam goreng aja ga suka, apalagi direbus" Dan doa saya terkabul, untung mama ga nyuapin saya hati ayam. Hati ayam itu khusus untuk para cowo aja. Setelah ritual menyuapi, mama mempersilahkan saya dan Yance makan. Ini berarti dimulai acara makan dalam diam *sigh. Saya makan pelan pelan banget sambil ngelirik Yance yang makan dalam diam, sambil dalam hati bergumam "Dasar sok cool" Saya makan nasinya aja bloggie hahahahaha. Sambil sedikit cuilan ayam aja sih, biar nambah rasa. Kemudian ga lama Yance pun berhenti makan, saya ikutan berhenti. Kami diam cukup lama sampe akhirnya Yance bilang "Udah boleh ngomong.." Fiuuuh.... Akhirnya makan siang yang sesungguhnya pun dimulai. Para anggota keluarga pun mulai makan. Saya ga makan terlalu banyak hiks, ayam rebus menunya, saya ga suka banget bloggie. Ikan indosiar goreng mana mama...... huhuhuhu

Setelah selesai makan, dimulailah ritual selanjutnya. Yance disuruh makan sirih pinang. Seharusnya saya juga disuruh makan sirih pinang. Tapi karena mama khawatir saya bakal mabok kalo ga kuat sama sirih pinangnya, saya boleh menskip ritual ini. Alhasil Yance aja yang makan sirih pinangnya. Begitu masuk ke dalam mulutnya, langsung mukanya si Yance kicep abis. Dan samar samar saya denger suara "Krek..." tanda pinangnya berhasil digerus. Setelah berhasil sekali telan air ludahnya, Yance langsung ngelepeh sirih pinangnya. Ini cuma buat formalitas aja bloggie, yang penting Yance berhasil ngunyah sirih pinangnya aja. Ritual yang lucu.

Selesai ritual sirih pinang, Yance mengajak saya jalan jalan di lingkungan sekitar. Melihat tanah keluarganya yang super duper gede  yang saat itu lagi dipake sapi buat ngerumput. Kemudian saya berjalan jalan melihat bekas banjir besar yang melanda kampung ini. Banyak rumah yang terbengkalai ditinggal penghuninya saat banjir. Rumah hampir tertimbun lumpur sisa banjir hingga atap. Saya jadi ngeri ngebayangin banjirnya. Kata Yance sih saat bulan Februari-Maret pasti banjir di kampung sini. Udah jadi langganan banjir. Sehingga mama di rumah harus mengungsi jauh ke rumah nenek yang daerahnya aman banjir. Kasian.

Bekas banjir
Tadinya semua rumput, tapi sejak negara api menyerang banjir, sebagian jadi tanah
Sapi bernama "Riska"
Ga terasa hari sudah sore, kami semua pamit sama bapak untuk pulang ke rumah, karena malam harinya kami masih harus melakukan kunjungan keluarga ke rumah Mama Morin, tantenya Yance. Soalnya tadi pagi diundang makan malem sama Mama Morin. Saya membayangkan makan ikan yang yummy, karena makan siang saya kali ini ga maksimal. Fyi, orang kampung disini jarang menggunakan bumbu seperti orang jawa. Mereka cuma tau garam dan gula aja sepertinya. Direbus, dibakar dan digoreng. Yang bikin makanan mereka terasa enak adalah kesegaran bahannya. Seperti contohnya ayam, mereka baru potong ayam itu ketika mau dimakan. Sama halnya dengan ikan, setiap hari mereka selalu melaut untuk mengambil ikan. Karena mereka ga punya kulkas, maka semua bahan makanan harus habis hari itu juga, dan hari berikutnya ambil lagi yang baru. Makanan mereka selalu segar.

Perjalanan pulang nemu jembatan bekas banjir dulu.
Jalan yang kami lalui ini tadinya adalah sungai saat banjir
Sesampainya di rumah, mama mengajak saya membersihkan ikan untuk makan malam nanti. Tapi sepertinya mama tau kalo saya sedikit jijik megang ikan hahaha, beliau cuma menyuruh saya melihat saja "Jangan dipegang ikannya, nanti tanganmu amis" sambil tersenyum. Ahh mama. Ga lama kemudian, bergabunglah keponakan Yance yang masih berumur 8 tahun, namanya Tia. Dan tanpa segan dan jijik, Tia ikut ngebantuin mama bersihin ikan dengan lincahnya. Memang, sejauh yang saya liat selama ini, Tia ini anaknya suka membantu dan melakukan pekerjaan orang dewasa, Menggendong adiknya sambil menyuapi, membantu membersihkan ikan, mengupas mangga sendiri. Benar benar anak yang baik. Beda sama saya yang waktu seumuran dia dulu, kerjaannya cuma main aja. Buktinya sampe segede ini masih jijik megang ikan mentah. Payah banget Ami ini. Selesai membersihkan ikan dan membumbui ikan dengan garam, Yance teriak nyuruh saya mandi soalnya hari mulai gelap. Oh iya saya lupa kalo kamar mandi disini ga pake lampu, dan langsung ngacirlah saya ke kamar mandi.


Ini namanya ikan "kombong" kalo di Jawa nyebutnya ikan kembung
Ini salah satu ikan favorit saya juga selain ikan indosiar.
Sore hari di rumah
Malam Hari di Kampung Lo'omota

Yak, ini malam kedua saya di desa Umatoos tepatnya kampung Lo'omota. Seperti biasa, gelap udah menjadi makanan sehari hari di kampung ini. Rupanya malam kedua pun saya mulai terbiasa gelap gelapan dan mulai bisa berjalan tanpa liat ke bawah kali aja takut kesandung batu. Waktu itu setelah mandi saya memakai piyama, dan Yance manggil saya buat siap siap ke rumah Mama Morin. Kata Yance waktu melihat saya dalam balutan piyama, ga masalah buat saya pergi bertamu menggunakan piyama. Katanya piyama ini udah bagus banget buat orang kampung sini. Ok deh, saya ga perlu bersiap siap mengganti baju. Malam ini yang ke rumah Mama Morin hanya kami bertiga saja, yaitu saya, Yance, dan Mama Bui. Saya dan Yance menunggu mama Bui keluar rumah sambil melihat bintang yang sinarnya terang banget. "Nanti, di rumah mama Morin kamu bisa liat yang lebih terang lagi. Disana belum ada listrik, jadi gelapnya total banget, bintangnya lebih terang" Saya semakin ga sabar ke rumah mama Morin. Ga lama, mama sudah keluar rumah dengan kain sarung ala timornya dan senter. Yup senter, untuk menerangi jalan kami menuju rumah mama Morin.

Ini pertama kalinya saya berjalan di tempat yang super duper gelapnya, hanya ditemani cahaya senter dan aplikasi senter di hp. Anehnya saya ga merasakan merinding disko ato ngerasain adanya makhluk astral (halah) di kegelapan ini. Saya malah sangat menikmati sambil sesekali melongok ke atas melihat bintang. Yance menyadarkan saya untuk melihat jalan di bawah karena kontur jalan mulai naik turun bergelombang. Kata mama ini bekas aliran banjir makanya menyisakan jalan tanah yang bergelombang seperti ini. Saya hanya manggut manggut aja sambil nanya "Rumah mama Morin yang mana ?". Saya mulai curiga mama dan Yance salah masuk rumah orang karena saking gelapnya jadi ga keliatan bentuk rumahnya. Yance bilang "Besok siang kita kesini ya, liat kampung ini siang hari lebih bagus, rumahnya tradisional"

Setelah 15 menit berjalan akhirnya sampe juga di rumah mama Morin. Rumah mama Morin kecil banget bloggie, ga lebih besar dari kamar saya. Hiks. Tipe rumahnya sama seperti rumah panggung disini. Kita ga bisa berdiri sempurna karena langit langitnya rendah. Makan, tidur semua dilakukan di satu ruangan saja. Karena rumah terlalu sempit untuk menampung kami semua, maka saya, Yance, anak Mama Morin dan suami mama Morin pun duduk di semacam teras rumah saja ditemani cahaya bulan dan lampu sentir (semacam lampu petromak tapi lebih kecil ukurannya). Saya yang udah lapar sejak sore tadi pun mulai membayangkan enaknya makan malem nanti. Harapan saya ga macem macem, saya cuma pengen banget makan ikan. Saya pun berbisik ke Yance "Makannya apa nanti ?" daaaaaan ternyata Yance jawab "Ayam, mama Morin tadi beli ayam kampung. Kayanya sih direbus lagi. Disini ga bisa digoreng" Oh my...... Kemudian saya melongok ke dalam rumah, dan benar mama Morin lagi membunuh ayam kampung itu, saya liat lagi ayam itu meronta ronta. Ya ampun. Saya emang paling ga suka liat ayam atau bahan makanan apapun dibunuh di depan saya, kecuali ikan ya. Apalagi kalo saya liat darahnya, beuh 100% saya ga akan mau makan makanan itu. Apalagi ini direbus hiks. Dan seketika saya ngerasa pengen pulang dan makan ikan goreng di rumah. Saya tiba tiba terisak di punggung Yance. Lucky me, karena suasana yang gelap gulita, ga ada 1 orang pun yang liat saya nangis. Yance aja ga nyadar kalo saya terisak di punggungnya sampe akhirnya dia sadar ketika saya nyedot ingus "Sroooottt..." Kemudian Yance pun nepuk nepuk pundak saya sambil bilang "Sabar ya, nanti pulang baru kita makan ikan ya"

Ga tau kenapa, waktu itu rasanya saya sedih banget hahaha pengen buruan pulang trus makan ikan goreng. Apalagi saya belom makan sejak siang tadi. Fix, don't mess with hungry woman. Hahahaha !! Jadi kalo temen temen saya di Facebook pada komen saya ini tangguh bisa jalan jalan ke pedalaman, mereka sedikit salah, hahaha buktinya saat itu saya nangis karena ga kuat sama keadaannya. I'm not so though guys, wkwkwk. Akhirnya dalam kegelapan, makanan pun sudah siap disajikan. Supaya saya ga terlalu takut gelap, mama Morin menyalakan senter yang kami bawa dari rumah sebagai alat bantu penerangan. Bener, nasi putih dengan ayam rebus kuah menunya. Kenapa saya ga suka ayam rebus disini tapi masih mau kalo makan soto ? Disini ayam direbus tanpa tambahan bumbu apa apa bloggie, cuma garem aja. Kebayang dong masih ada rasa amis dari ayamnya. Saat itu, nasi di piring saya, langsung saya transfer sebagian besar ke piring Yance. Dan saya cuma makan pake garem aja, itu aja udah nikmat banget. Inget kan kalo di postingan sebelumnya, kebiasaan orang sini kalo makan adalah selalu tersedia garam buat bahan cocolan. Saat itu saya manfaatin aja garemnya buat saya taburin di nasi.

Yuk makan yuk....
Nenek Muti lagi ngulek pinang, soalnya beliau ga bisa gigit pinang lagi.
Ga punya gigi,nyirih pinang tetep lanjuuuutttt
Setelah makan malam, para mama mulai nyemilin sirih pinang. Dan kali ini, Yance juga ditawarin lagi makan sirih pinang. Yance ga bisa nolak soalnya yang ngasih langsung dari nenek. Sambil terpaksa, akhirnya masuk juga satu set sirih pinang lengkap dengan kapur ke dalam mulutnya. Dilihat dari ekspresi mukanya, kayanya sirih pinang itu rasanya ga enak banget yah. Sayang sekali selama disana saya ga sempet nyobain. Soalnya para mama melarang, takut kalo saya ga kuat dan mabok. Mabuk disini konteksnya bukan tipsy kaya abis minum miras yah, tapi pusing dan keringet dingin yang mengucur. Katanya kalo ga biasa makan sirih pinang memang itu efek awal yang bakal terjadi. Tapi saya ga liat Yance mabuk selama ini kalo dipaksa mama makan sirih pinang, dia sih ngeles "Aku kan kuat" hhhhh... -__-

Cukup lama kami gelap gelapan di kampungnya mama Morin, akhirnya jam 10 malem kami kembali pulang. Setiap pulang bertamu, saya diajari untuk selalu berkata "Mama, Ami fila onan" yang artinya "Mama, Ami pulang dulu" dan para mama serentak menjawab "He'e.." dengan nada yang panjang dan cengkok khasnya. Sebelum pulang, mama Morin meminjamkan kami senter yang beliau punya, soalnya katanya senter kami kurang terang. Dalam perjalanan pulang, saya digandeng mama Bui, karena mama tau saya paling takut sama yang namanya anjing. Apalagi malam itu suara anjing menggonggong dan melolong saling bersahutan. Kalo tadi berangkatnya saya ceria bisa liat bintang yang bertaburan, tapi dalam perjalanan pulang saya tegang setengah mati sampe keringetan hahaha.

Setelah perjalanan yang menegangkan, akhirnya kami semua sampe dengan selamat di rumah. Yance tau kalo saya masih laper, dia menyuruh adiknya untuk menyiapkan ikan goreng dan nasi untuk saya makan. Ga tanggung tanggung, saya langsung ngabisin 2 piring nasi dengan lauk ikan goreng indosiar. Ini dosa terbesar saya selama diet, makan malem dengan porsi kuli jam 11 malem. Dan setelah itu saya langsung tidur. Parah banget.

Jelajah Tanah Flores & Timor Day 2 (Atambua - Besikama)

Minggu, 21 Desember 2014

Pagi Atambua :)

Saya terbangun karena suara orang orang yang sedang misa pagi di aula hotel. Saya lupa kalo hari ini adalah hari Minggu, dan pulau Timor kan mayoritas masyarakatnya penganut Katolik. Saya langsung bergegas bangun dan merapikan barang barang, setelah itu saya mandi dan bersiap siap untuk turun sarapan di hotel. Prinsip saya selama jalan adalah, kalo ada makanan gratis langsung dimakan aja, sebanyak mungkin kalo bisa, buat perut sekenyang mungkin. Lupain diet sejenak deh, yang penting perut ga rewel dan bisa menghemat biaya makan. Sarapan di hotel pagi itu, satu butir telur rebus dan setangkup roti dengan selai dilengkapi dengan secangkir teh panas. Ahh cocok ini buat ngeganjel perut sampe nanti siang.

Menu sarapan di hotel
Pagi di kota Atambua
Menuju Mota'ain, Perbatasan Indonesia - Timor Leste

Hari ini rencananya saya menuju ke perbatasan Indonesia-Timor Leste, dan setelah itu jam 1 siang saya mengejar angkot untuk menuju Besikama, Belu. Padahal kalo masih ada waktu, saya pengen mampir ke Timor Leste, ga sebatas di perbatasannya aja. Tapi sayang, jadwal angkot menuju Besikama terakhir adanya jam 1 siang. Fyi, berhubung suasana menjelang natal, angkot maupun bus mulai langka ga sebanyak hari hari biasa. Jadinya kalo ketinggalan angkot, ya berarti ga ada cara lain menuju ke Besikama. Jam 10 pagi, Om Kim udah menjemput dan kami pun langsung menuju perbatasan Timor Leste. Akhirnya saya bisa lihat suasana kota Atambua di pagi hari. Ga terlalu berbeda, masih tetep sepi sama seperti semalem. Tapi seengganya kalo siang lebih terang (ya kali..). Perjalanan menuju perbatasan, melewati jalanan yang super duper sepi, hanya ada mobil om Kim aja di jalan. Pemandangannya juga super, masih hutan hutan yang jarang terjamah manusia. Sepintas saya tiba tiba kepikiran acara Locked Up Abroad di channel Natgeo yang ngebahas orang orang yang dipenjara di luar negeri karena berbagai macam kasus, salah satunya karena menerobos perbatasan negara. Ga kebayang kalo nanti saya ditangkep polisi Timor Leste karena menerobos perbatasan. Perjalanan ke perbatasan biasanya melewati daerah bernama Atapupu, tapi kali ini Om Kim melewati daerah yang berbeda, konon katanya bisa lebih cepat dibanding lewat Atapupu.

Perjalanan menuju Mota'ain
Sekitar satu setengah jam perjalanan, sampailah kami daerah perbatasan. Mulai banyak polisi maupun tentara yang berjaga, saya pun ikutan tegang. Padahal mah kata Om Kim sama anak buahnya, disuruh santai aja. Dan tiba tiba mobil kami diteriakin polisi yang lagi berjaga, kami disuruh berhenti. Dan anak buahnya Om Kim yang mirip rapper Amerika itu pun turun dan ngomong apaan gitu ke polisinya, dan trus ga lama polisinya teriak ke Om Kim disuruh turun. Om Kim dengan santainya turun dan nunjukkin STNK. Trus pak polisinya meres sambil bilang "Kasih uang, ato nanti STNKnya ga balik" trus Om Kim nunjukkin nama di STNK nya dan bilang "Iya, besok Kapolres yang anterin uangnya" Begitu liat nama di STNK Om Kim, polisi itupun nunduk nunduk minta maaf. Dan saat itu makin yakin saya kalo Om Kim ini emang orang terpandang di Atambua dan Timor Leste. Lucky me, guidenya Om Kim. Padahal tadi sempat meragukan jabatan Om Kim ini, maaf omm....
Yang mau ke Timor Leste jalan lurus yaa...
Sama halnya di pos polisi tadi, begitu kami sampe di border, hanya setor muka aja, saya dan Yance bisa masuk Timor Leste tanpa harus ngisi form ini itu kaya lainnya. Bahagia banget hahahahaha. Sepanjang perjalanan menuju tugu perbatasan, kami diceritain sama anak buah Om Kim, kalo tiap malem disini dilepas anjing anjing buat ngelacak orang yang menerobos perbatasan malem hari. Tuh kan bener, bayangan saya persis kaya di acara Locked Up Abroad itu. Di perbatasan ini mondar mandir mobil maupun motor berplat Timor Leste. Mungkin disini udah biasa ya. Duh maklum saya norak abis, ga tau keadaan perbatasan 2 negara yang masih satu daratan. Hahahaha !!

Jalan menuju jembatan perbatasan
Siang itu perbatasan cukup ramai, mungkin karena hari Minggu kali ya
Welcome to Timor Leste
Posto Fronterico Integrado mungkin ini artinya kurang lebih tentang perbatasan, bukan "Disini Jual Pulsa"



Saaaahhh ! Nyampe Timor Leste
Setelah puas mengabadikan foto di perbatasan Timor Leste, kami kembali ke Atambua untuk ngejar angkot menuju Besikama. Sayang sekali, karena waktu udah mepet ga sempet explore Timor Leste lebih jauh. Padahal kami mau dibawa Om Kim ke pasar yang ngejual minuman yang ga dijual di Indonesia. Penasaran kan saya itu minuman apaan. Tapi sayang rasa penasaran saya ga terbayarkan. Hiks. Sebelum menuju terminal angkot, kami sempatkan mampir di rumah makan Padang "Beringin" untuk makan siang. Karena perjalanan menuju Besikama nanti lumayan panjang, Om Kim menyarankan kami makan siang dahulu. Saat itu saya makan udah ga pake acara kunyah lagi, langsung telen aja, yang penting cepet dan ga ketinggalan angkot. Selesai makan, Om Kim langsung memacu mobilnya menuju terminal angkot di Atambua. Sesampainya di terminal angkot, hanya ada 1 angkot, yaitu angkot kami yang ngetem. Syukurlah, saya ga ditinggal angkot menuju Besikama. Padahal saat itu masih jam 1 siang, bukti bahwa banyak supir angkot yang libur ingin menyiapkan natal bersama keluarga di kampung. Perjalanan Atambua - Besikama butuh waktu 2-3 jam. Di dalam angkot, isinya banyak banget orang orang yang membawa hasil kebun mereka. Dan bahkan ada ayam hidup di bawah kursi kami. Bayangkan, betapa panasnya si ayam di bawah kursi, saya yang duduk di kursi aja udah kepanasan. Fyi, perjalanan saya ke Besikama ini adalah ke rumah Yance. Tadinya trip saya ini ga nyampe Timor, tapi berhubung tau Yance mau pulang kampung, saya ngintilin aja. Soalnya denger ceritaYance tentang kampungnya selama ini bikin saya tertarik untuk kesana. Dan Alhamdulillah saya berkesempatan juga ke kampungnya di Besikama, tepatnya Desa Umatoos. Salah satu desa terluar di Indonesia. 

Perjalanan menuju Besikama, jalannya rusak parah dan hancur lebur. Bikin kami semua terguncang guncang maksimal di dalam angkot. Terlempar kesana kesini. Saya jadi berpikir, ini jalan terusak yang pernah saya lewatin, dan naik angkot. Perjalanan yang menakjubkan. Setelah terguncang heboh, angkot kami pun berhenti di pinggir jalan yang udah agak halus, mungkin supir angkotnya pengen menenangkan diri sejenak sambil menghisap sebatang rokok abis diguncang guncang di dalem angkot. Saya ga menyia nyiakan kesempatan, saya ikutan keluar dari angkot dan meregangkan otot otot yang mulai kaku gegara duduk menyamping selama berjam jam. Ga terlalu lama angkot berhenti, kami mulai melanjutkan perjalanan. Berita duka dateng dari ayam yang duduk dibawah kursi, akhirnya dia mati gara gara kepanasan, sampe lidahnya keluar. Kasian.

Jalannya rusak cuy
Ngaso dulu in the middle of nowhere
Sambil foto foto, dih norak Mi
Jam 3 sore sampailah kami di kota Betun, ibarat ibu kotanya Besikama. Disini angkot kembali ngetem, karena ada beberapa mama di angkot yang pengen mampir di pasar Betun untuk membeli sirih pinang. Saya juga ikutan salah satu mama beli sirih pinang di salah satu lapak. Saya pun kepo dengan tanya ini itu ke si mama "Ini yang dimakan ?" "Rasanya kaya apaan ?" Hahaha pokoknya saat itu saya keliatan banget pendatang. Yance akhirnya nenangin saya yang mulai kepo "Nanti liat yah mama di rumah makan sirih pinang" Hahahahaha. Sebenernya saya udah liat beberapa nenek yang makan sirih pinang waktu di angkot. Dan seketika saya langsung mual melihat hasil kunyahan mereka yang berwarna merah kecoklatan. Tapi lama kelamaan saya mulai terbiasa rupanya, saya udah ga terlalu mual ngeliatin orang orang yang ngunyah sirih pinang. Ga tua ga muda, ga cowo ga cewe. Sirih pinang itu wajib harus ada di dalam tas mereka.

Kota Betun
Pinang kering
Lapak penjual sirih pinang dan kapur

Welcome to Besikama, Belu !!

Jarak dari Betun ke kampung ga terlalu lama, sekitar 45 menit akhirnya kami sampai juga di rumah Yance, fyi angkot juga mengantarkan kami ke depan rumah. Kesan pertama sampai di kampung ini adalah damai. Bener bener damai dan menenangkan. Bukan seperti kebanyakan rumah di kota, rumah di kampung ini dindingnya terbuat dari batang pohon sagu, mereka menyebutnya "bebak" . Dan tanah yang mereka miliki di kampung itu bener bener luas maksimal. Kalo di kota ga akan ada tanah seluas itu nganggur. Dan, harga tanah di kampung ini masih murah maksimal, 10 juta bisa dapet tanah yang bisa dibangun rumah plus halamannya yang luas. Tiba tiba saya kepikiran buat bangun rumah disini. Suasananya begitu damai.

Begitu saya turun dari angkot, langsung berhamburan orang orang dari dalam rumah Yance buat menyambut saya. Ahh saya serasa disambut oleh keluarga sendiri. Saya merasa warga sini yang sudah terlalu lama merantau. Semua orang memeluk saya dan berkata "Selamat Datang". Mereka orang orang Timor, walaupun wajahnya terlihat keras, tapi saat mereka tersenyum, seketika langsung luruh wajahnya yang keras. Hati mereka baik dan tulus banget, saya bisa ngerasain itu semua. Ahh saya terharu pokoknya waktu mereka meyambut saya penuh suka cita. Bahkan tas saya pun ingin dibawakan oleh salah satu mama (fyi, disini ga ada sapaan tante, semua dipanggil mama). Begitu masuk halaman, saya dituntun menuju kamar yang akan saya tinggali selama di rumah ini. Rumah Yance ini tipenya mencar mencar gitu, dapur, kamar, ruang tamu, ruang tv, kamar mandi, semuanya beda bangunan. 

Setelah meletakkan barang barang di kamar, kami langsung menuju ke dapur untuk bertegur sapa dengan para mama yang sedang menyiapkan makan malam. Begitu duduk saya langsung disuguhi teh hangat dan satu ekor ikan bakar. Karena Yance tau saya ga suka ikan bakar yang dibakar ala kadarnya tanpa bumbu, saya pun diberikan ikan goreng. Ikan yang digoreng ini sejenis ikan terbang, dan mereka menyebutnya dengan "ikan indosiar". Begitu memasukkan suapan pertama ikan ini, rasanya fantastis bombastisss !! Walaupun cuma ikan goreng, tapi rasanya enaaaaaaaak banget !! Ini bener bener ikan yang fresh from the sea, baru tadi siang ikan ini nyampe ke darat dan langsung digoreng. Pantesan rasanya yummy maksimal. Inilah awal mula kecintaan saya sama "ikan indosiar" ini. Sejak itu selama 4 hari di rumah Yance saya selalu minta digorengin "ikan indosiar" hahaha.

Mengenal Adat Timor di Desa Umatoos, Besikama

Selesai bercengkrama dengan para mama dan nenek serta ba'i (semacam panggilan om), saya disuruh mandi dan dandan dulu karena nanti ada semacam acara penyambutan, dimana semua anggota keluarga besar akan datang. Yang membuat saya kaget adalah, disini ga ada keran air, masih pake sumur dan harus nimba dulu kalo mau ambil air. Hahaha, saya pun ga menyia nyiakan kesempata, saya pengen nyobain nimba air untuk pertama kalinya. Dan para mama itu pun langsung berteriak panik sambil melarang saya nimba air, katanya sih takut saya jatuh ke dalam sumur. Emang sih, begitu liat ke dalam sumurnya, lutut saya sedikit bergetar, dalem banget, brrrrrr. Tapi saya sukses sih nimba airnya sekali aja, maklum emang berat dan tangan saya langsung lecet kena talinya. Sisanya para mama yang nimbain air buat saya mandi. Makasih mama :") Kemudian saya masuk ke kamar mandi, ternyata di kamar mandi ga ada lampunya bloggie. Saya yang parno sama gelap, takut kalo ada hewan aneh yang nempel di dinding dan loncat ke badan saya. Mama yang tau ketakutan saya pun menyuruh Yance stand by di depan pintu kamar mandi sambil ngajak ngobrol saya biar ga takut. Ahh sedikit lega. 

Setelah mandi, saya dipanggil Mama Bui (ini mama kandungnya Yance) untuk masuk ke dalam kamarnya, dan didandani ala wanita Timor haha. Saya dipakein sarung dan selendang dari tenun yang mama tenun sendiri selama 2 minggu. Salut. Keren !! Dan setelah didandani saya keluar kamar dan semua anggota keluarga menatap kagum. Ahh ini saya yang GR ato emang saya cantik banget yaa pake sarung Timor, hihihihi. Sayang, saya ga ada fotonya, soalnya udah kelewat sore dan penerangan minim saat itu. Udah akui aja kalo saya emang cantik kalo didandani ala cewe Timor. Setelah dandan, Mama Bui menyuruh saya bergabung dengan Yance dan para ba'i. Fyi, untuk bisa bergabung dengan para ba'i ini harus orang yang "derajatnya tinggi" menurut adat, sebenernya para wanita disini ga bisa duduk bersama para ba'i. Berhubung saya adalah tamunya Yance, maka saya diperbolehkan duduk di sebelah Yance. Yance sendiri pun juga salah satu yang memiliki derajat tertinggi di keluarga, karena dia anak pertama laki laki satu satunya dari anak sulung di keluarga besar. Untuk duduk bersanding dengan Yance harus orang yang setara derajatnya. Hahaha, bangga kali saya bisa duduk bersanding dengan para pria pria yang memiliki kehormatan menurut adat di kampung ini. *idungkembangkempis

Sebagian para ba'i, yang lain belom pada dateng
Untuk bicara dengan para ba'i pun seharusnya pake bahasa lokal yang halus, berhubung saya bener bener roaming dengan apa yang mereka bicarakan, saya cuma nempelin Yance aja sambil minta diterjemahin hahaha. Ada satu kebiasaan adat yang unik menurut saya, disana itu tiap orang memiliki tempat sirih pinang sendiri. Untuk cowo tempat sirih pinangnya bernama "knabir", sedangkan punya cewe namanya "tanasak". Sudah kebiasaan kalo bertamu, harus saling bertukar sirih pinang. Ketika ba'i menawari saya sirih pinang, saya harus menawari balik "tanasak" yang saya miliki sambil berkata "Ba'i sia, ne'e Ami tanasak hauk ka" artinya : Om semua, ini tanasaknya Ami. Dan para ba'i pun menjawab dengan nada panjang "He'e" (cara bacanya Heeeeeeeee'e) pokoknya harus bernada panjang dan ada cengkoknya gitu deh. Hahaha. Tapi berhubung para ba'i tau kalo saya bukan pengkonsumsi sirih pinang, mereka menawari saya itu hanya bertujuan sebagai formalitas aja. Saya ga diharuskan untuk makan sirih pinang pemberian mereka. Oh iya, disini panggilan saya adalah "Bete Klaran" artinya adalah anak perempuan kedua (saya anak perempuan kedua dari 3 bersaudara). Sedangkan Yance disini panggilannya adalah "Kakak Ulu Bria" artinya anak pertama dari keluarga Bria.

Ini tempat sirih pinang para cowo. Lucu yah
Ini tempat sirih pinang buat cewe, bentuknya kotak biasa kaya "besek" gitu
Ga terasa, ternyata matahari udah mulai pulang ke peraduannya. Senja semakin gelap dan saya semakin bertanya tanya, kenapa ga ada lampu yang dinyalain. Dan masa ngobrol gelap gelapan begini ? Dan ga beberapa lama, kakak kakak pun menyalakan lilin untuk menerangin kami semua malam itu. Semakin malam, anggota keluarga semakin banyak yang berdatangan, total malam itu kurang lebih ada 25 orang. Dan keraguan saya terhadap kegelapan malam terbantahkan, ternyata kami semua diterangi oleh cahaya bulan. Begitu saya melihat ke atas langit, pemandangannya superb banget. Bintang teraaaaang banget, ditambah beberapa jejak milky way pun terlihat samar samar. Ini pertama kalinya saya melihat langit sebersih dan seindah itu. Subhanallah. Walaupun kami semua berkumpul dalam gelap, tapi saat itu menyenangkan sekali, mengingatkan sama jaman malam inaugurasi SMA dan kuliah pake api unggun mihiihihi.


Sederhana namun berkesan
Kami semua disana larut dalam pembicaraan kami sambil menikmati hidangan makan malam sederhana berupa ikan goreng, nasi, dan sayur daun singkong rebus. Tapi rasanya ? Sumpah enak banget. Kebiasaan orang Timor kalo makan adalah, mereka suka makan dengan garam. Sayur dicolek ke garam dulu baru dimakan, ikan juga dicolek ke garam dulu. Saya pikir ikannya belum berbumbu, ternyata udah asin dan enak. Kenapa coba mereka nyolek ke garem lagi ? Ternyata kata Yance ya memang itulah adatnya. Okay. Saat acara makan malam pun, ada beberapa orang yang tadinya duduk sejajar dengan kami, tiba tiba mundur ke belakang jauh di belakang saya. Ternyata itu adalah ipar Yance (nyadu) yang statusnya dibawah Yance dan para ba'i, sehingga saat makan dia ga boleh berada sejajar. Dan setelah liat sekeliling, cuma saya satu satunya wanita yang duduk di kursi dengan para ba'i. Sedangkan kakak cewe dan para mama duduk di bawah beralaskan tikar. Tapi, walaupun kami duduk berbeda sesuai dengan status adat, kerukunan dan keakuran keluarga tetap terjaga. Kami asik mengobrol hingga malam larut. Yah walau saya kebanyakan roaming ga ngerti apa yang mereka bicarakan sambil sesekali menyenggol Yance sambil nanya "Artinya apaan ?"

Jam 12 malem, saya udah ga kuat menemani para ba'i dan mama ngobrol, saya pun undur diri untuk beristirahat. Yance cerita ke saya, sampe pagi pun kalo kita masih tetep mau melek bakal ditemenin sama mereka. Dan selama para ba'i belom pulang, cewe cewe harus stand by di dapur kalo aja gelas kopi mereka sudah kosong, harus segera diisi lagi. Saya juga salut dengan mereka yang dateng dari jauh berjalan kaki ditemani cahaya senter aja, bahkan ada beberapa bapak yang ga pake senter. Begitu saya tanya kenapa bapak ga pake senter ? Kalo pulangnya jam 2 pagi gapapa ? Ga takut hantu ? Jawaban bapak itu adalah "Bapak ga takut, nona. Bapak cuma takut Tuhan". Ahh.. bapak :")

Malam pertama saya di desa Umatoos, Besikama, di Pulau Timor. Good night, Besikama..... zzzz

Tambahan info :
- Di daratan Timor, ga ada sebutan panggilan "mas" ato "mbak". Disini panggilannya nona, kakak, dan om
- Ga heran kalo ada film Atambua 39 derajat Celcius, karena emang cuacanya disini super duper panas. Jam 10 pagi disini sama kaya jam 1 siang di Jawa. Ga tau apa yang buat cuaca disini begitu panas.
- Jangan kaget kalo berkunjung kesini dan melihat orang orang yang makan sirih pinang meludah begitu aja, emang itu kebiasaan mereka. Jangan kaget juga melihat warna ludahnya yang berwarna merah bata.

05/01/2015

Jelajah Tanah Flores & Timor Day 1 (Denpasar - Kupang - Atambua)

Alhamdulillah, akhirnya perjalanan yang udah ditunggu tunggu dan direncanakan selama 5 bulan ini terealisasi juga. Impian saya buat menjejakkan kaki di tanah Flores dan Timor pun terwujud. Rasanya ? Seneng, seneng, dan seneng banget. Perjalanan saya kali ini bukanlah tipe backpacker, seperti yang udah tertanam di pikiran orang-orang, kalau backpacker itu harus "gembel". Saya bukan backpacker karena saya masih menikmati hotel hotel menengah ke atas, dan di beberapa lokasi saya menggunakan mobil sewaan bukan menggunakan bus antar kota karena ada beberapa kendala. Total pengeluaran selama trip ini kurang lebih sebanyak 6 juta selama 2 minggu. Udah termasuk tiket Denpasar - Kupang, Kupang - Ende, dan Labuan Bajo -  Denpasar.

Sabtu, 20 Desember 2014

Heading to Kupang

Sabtu pagi pukul 9 pagi saya udah bersiap siap ke bandara Ngurah Rai, karena jadwal penerbangan saya ke Kupang jam 10.45 pagi. Ga lupa saya mampir dulu ke gerai Beard Papa beli vanilla puff nya buat sarapan. Saya cukup beruntung bisa naik Garuda Indonesia kali ini, apalagi tiketnya paling murah dibanding Wings Air yang udah hampir 1,3 juta. Senengnya lagi, dapet makan siang gratis, lumayan menghemat makan siang saya nanti di Kupang. Apalagi nanti setelah landing di Kupang perjalanan saya bakal berlanjut ke Atambua dengan bus antar kota, jadi kemungkinan saya ga bakal sempat makan siang di Kupang.  Selama perjalanan di atas pesawat, saya ga berhenti mengucap syukur. Antara percaya dan ga percaya saya terbang juga ke Kupang. Tempat terjauh di timur Indonesia yang sejauh ini sudah saya sambangi. Apalagi waktu kepala melongok ke jendela, terlihat di bawah sana pulau-entah-apalah-itu yang berwarna coklat dan berkontur khas, ga kaya yang terlihat kalo saya terbang di Jawa.

Bandar Udara El Tari dengan simbol sasando raksasa
Jam 12.55 siang pesawat saya sampai juga di tanah yang terkenal dengan alat musik Sasando, yaitu kota Kupang. Begitu turun dari pesawat, hanya satu komentar saya : PANAS. Seriously, panasnya terik dan bikin silau mata. Sehingga mata saya sedikit menyipit begitu berjalan menuju terminal kedatangan Airport El Tari ini. Begitu memasuki terminal kedatangan, saya semakin gugup karena wajah wajah yang saya lihat begitu berbeda dengan yang pernah saya lihat sebelumnya. Mereka terlihat begitu sangar dan galak. Ya memang, karakter wajah orang orang di timur Indonesia sedikit terlihat lebih keras. Saya semakin bingung celingak celinguk nyari Yance, temen yang jemput saya di bandara El Tari. Setelah ketemu, perasaan langsung lega, akhirnya ada juga orang yang saya kenal di tempat jauh begini. Iyaa, saya emang cemen, belom berani solo travelling, belum cukup nyalinya. Ga membuang waktu lama di bandara, kami langsung cabut ke agen bis antar kota Kupang-Atambua "Surya Gemilang" yang akan mengantarkan kami menuju Atambua, untuk menuju perbatasan Indonesia-Timor Leste yang terletak di daerah Mota'ain, Atambua. Sesampai di agen bus, Yance ngomong ngomong pake bahasa lokal dengan salah satu konjak (kenek dalam bahasa Kupang) kurang lebih pesen kursi untuk ke Atambua. Suasana siang itu panas maksimal, ditambah riuhnya teriakan para konjak yang mengatur barang bawaan penumpang yang diletakkan diatas body bis dan diikat tali kemudian ditutupi terpal guna melindungi dari air hujan. Tak terkecuali tas saya juga diletakkan diatas body bus, dan langsung terpapar sinar matahari. Ada perasaan khawatir saya terhadap make up dan parfum saya, takut rusak soalnya terpapar sinar matahari Kupang yang panasnya masya Allah. Ya kali, Mi jalan jalan bawa make up (abaikan...). Dan satu lagi pemandangan ajaib di mata saya. 2 buah motor bebek diikat di belakang bus, dan hebatnya para konjak itu, mereka kuat banget bahu membahu angkat motor bebek yang pasti ga ringan itu. Suasana saat itu cuma bisa digambarkan dalam satu kata : Panas. Saya iseng jalan jalan keluar cari angin, yang ada saya malah diliatin mbak mbak dan mas mas Kupang, seakan akan ada tulisan "Lihat Aku" nempel di jidat saya. Karena risih juga diliatin, saya kembali nempel ke Yance -lelaki asli Timor yang udah lama tinggal di Bali-. Buahahaha, diliatin aja langsung takut. Payah emang si Ami ini. Byuh...

Para konjak yang lagi ngiket motor di belakang body bus
Menuju Atambua di Kab. Belu

Akhirnya, kami para penumpang diijinkan masuk ke dalam bis yang sudah penuh sesak. Saya dan Yance kebagian duduk di belakang supir, tepat di atas mesin bis. Panas, panas, dan panas. Yance berulangkali menenangkan saya kalo bis akan terasa dingin kalo sudah mulai jalan karena angin yang masuk dari jendela. Jujur, saya ga masalah kok, saya cukup menikmati keadaan siang itu. Saya juga pernah berada di bis 3/4 seperti ini sebelumnya. Dan benar, setelah bis berjalan, akhirnya saya bisa ngerasain semilir angin yang lumayan meyegarkan. Yeay, Atambua here we come !! Untuk menuju Atambua harus melewati kota Niki Niki, Soe, Kefamenanu, Halelulik, dan sampailah di Atambua. Akhirnya, rasa panas akibat duduk diatas mesin bus pun saya rasakan. Kaki terasa panas menyengat dan keringat saya mengucur deras, angin dari jendela ga mampu mengeringkan keringat saya yang udah segede bulir jagung. Bahkan ketika sampai kota Soe yang terkenal dengan hawanya yang sejuk, ibarat Puncak di Jawa Barat dan Bedugul kalo di Bali. Saya masih tetap kepanasan, sementara para penumpang lain udah mulai pake jaket dan menutup kaca jendela mereka. Ahh, kesalahan terbesar nih duduk diatas mesin bus. Ditambah dengan lagu lagu berirama dugem dengan bahasa lokal yang dipasang dengan volume maksimal, rasanya saya semakin panas. Waktu makan sore pun tiba, kami semua turun dari bus dan beberapa penumpang melakukan peregangan otot karena pegal selama berjam jam duduk berdesakan. Yang saya lakukan hanya menghirup udara segar Soe dan berharap bus ini ga jalan lagi hahahahaha.

Bus Surya Gemilang lagi parkir makan sore
Setelah puas mendinginkan badan, saya masuk ke rumah makan Padang tempat pemberhentian bus. Sedikit kaget melihat harganya, ok ini mahal, amunisi abon saya pun mulai dikeluarkan dari tas. Nasi dengan lauk telur rebus (bener bener telur rebus tanpa bumbu) dengan kucuran bumbu gulai seharga 15 ribu. Ini mahal menurut saya. Selesai makan, kami semua naik lagi ke dalam bus dan melanjutkan perjalanan menuju Atambua. Begitu saya naik bus, baju saya kecantol mur di badan bus, dan kreeeeeeekkkk. Baju saya pun sobek dengan indahnya. Oke, makasih ya bus Surya Gemilang. Dengan bersungut sungut saya menuju ke bangku panas saya. Dan saya kembali bersauna di dalam bus. Sauna rasa dugem, begitulah kira kira. Jangan ditanya kaya gimana muka saya, udah manyun gara gara baju sobek, ditambah buluk keringetan pula.

Jam di tangan saya sudah menunjukkan jam setengah 9 malem. Hebatnya saya bisa bertahan hampir 8 jam kepanasan diatas mesin bus ini. Tapi saya mulai gundah, bolak balik nanya ke Yance "Jam berapa nyampe ?" ternyata sebenernya kami seharusnya sudah sampai di Atambua, tapi yang bikin lama adalah bus ini mengantarkan penumpangnya benar benar sampe di depan rumah mereka. Nah inilah sumber permasalahan kenapa kami lama sekali masuk ke kota Atambua nya. Di Atambua, saya dijemput oleh temen baik Yance, anaknya orang yang terpandang di Atambua, namanya Kim. Saya panggil dia Om Kim. Om Kim menyuruh kami turun di pinggir jalan aja dan nanti dijemput dia, sehingga kami ga terlalu lama naik bus yang asik menurunkan penumpang di depan rumahnya masing masing. Om Kim ditemani anak buahnya yang orang asli Timor Leste yang wajahnya sangat asing buat saya. "Ohh ternyata begini wajah asli orang Timor Leste", batin saya. Lebih mirip penyanyi hiphop Amerika dibanding seperti orang timur Indonesia. Begitu turun dari bus, mobil Om Kim sudah menunggu kami. Barang bawaan saya langsung dibawakan sama anak buahnya. Akhirnya keluar dari bis sauna itu juga. Hahahaha.

10 menit perjalanan dengan mobil Om Kim, saya masuk juga di kota Atambua, jam setengah 10 malem semua kota sudah sepi dan kaya kota mati. Bolak balik saya nanya sama Om Kim "Ini kotanya ?" "Ini Atambua ?" Sepi banget, bahkan saya bisa tidur tiduran di jalan. Di Atambua saya berencana menginap di hotel Matahari, tapi ternyata udah full book, kemudian Om Kim menyarankan saya menginap di hotel Nusantara Dua. beruntungnya saya, akhirnya saya dapet kamar juga di kota yang sepi ini. Kenorakan saya pun muncul saat tiba di parkiran hotel, disana terparkir mobil double cabin berplat nomor ala Timor Leste. Hahaha. Norak banget.

Plat mobil ala Timor Leste
Setelah mengedrop saya (dan kenorakan saya) di hotel, Om Kim pamit pulang dan besok menjemput menuju ke perbatasan Indonesia-Timor Leste di Mota'ain, border yang terbesar. Semakin ga sabar rasanya untuk menunggu esok pagi. Setelah berpamitan dengan Om Kim, saya pun masuk ke kamar, maksud hati mau membersihkan diri. Ternyata bak mandi saya dipenuhi cacing kecil kecil, entah itu jentik nyamuk ato apaan. Tapi yang jelas mereka kecil kecil meliuk liuk dan banyak banget. Saya yang kegelian langsung teriak manggil respsionisnya minta dibersihin baknya. Yah nasib, pengen istirahat masih aja dikasih cobaan. Tapi gapapalah, namanya aja pengalaman. Terlepas dari hewan aneh di bak mandi saya, hotel ini cukup recommended. Mengingat hotel di Atambua ga banyak, rasanya layaklah hotel ini dipertimbangkan. Good night, Atambua.....

Tambahan Info :

- Jarak agen bus Surya Gemilang dengan bandara ga terlalu jauh. Kebetulan waktu itu saya dijemput dengan mobil, jadi saya kurang tau pasti ada ato ga ada angkot tujuan kesana. Tapi secara garis besar, jaraknya dekat.
- Jadwal keberangkatan bus Surya Gemilang jurusan Kupang-Atambua jam 2 siang, dengan 7-8 jam perjalanan. Dengan tarif Rp. 80.000,00
- Kalo pengen naik travel, tersedia Timor Travel dengan jadwal keberangkatan jam 4 sore, perjalanan katanya bisa 5-6 jam perjalanan aja. Tarif kurang lebih Rp. 120.000,00. Timor Travel - 0380 881543
- Hotel Nusantara Dua  tarifnya paling murah Rp. 150.000 dengan kamar tipe standard dengan fan. Tapi sudah cukup nyaman sejauh ini. Kalo mau upgrade ke kamar yang pake AC bisa merogoh kocek lebih dalam lagi seharga Rp. 250.000

Tarif di Hotel Nusantara Dua

01/12/2014

Welcome Desember : Countdown to Perfect Runaway !!

Ticket to para para paradise~~~
Udah Desember aja, ga kerasa. Padahal kemaren udah ngitungin trip Overland Flores ini 3 bulan yang lalu. Dan sekaraaaaaang tinggal 19 hari. Yeaaayyy~~. Jangan ditanya ya udah berapa uang yang saya keluarin buat beli tiket ke daerah timur sana. Mahal cyiiiin. Saya beli tiket pesawat untuk rute ini, fyi saya berangkat dari Denpasar ya : DPS-KOE (Denpasar-Kupang) Rp. 1.074.000, KOE-ENE (Kupang-Ende) Rp. 644.800, LBJ-DPS (Labuan Bajo-Denpasar) Rp. 1.215.000. Totalnya adalah Rp. 3.000.000 kurang berapa ribu aja. Huiks mahal banget emang. Ini lah yang bikin saya jadi kere akhir akhir ini. Makan cuma ngandelin bekal dari warung jawa seharga 4 ribu per porsi. Dan bertekad ga akan ngeluarin duit lebih dari 10 ribu sehari. Sedih emang, tapi ya namanya berhemat demi liburan maksimal kan yaaa. Untuk rute, udah agak berubah dikit nih dari itinerary awal. Berangkat ke Kupang, dan pulang lewat Labuan Bajo. Kalo pake rute gini ada penghematan biaya sedikit, walaupuuuuun cuma 100-200 ribu. Tapiiiii, 100 ribu itu ga cuma yaaa, itu berharga banget !

Berikut ini itinerary saya yang Insya Allah fix maksimal yaahhh, yuk mari diintip :

Day 1 (20 Desember 2014)
Flight ke Kupang jam 11.05, landing sekitar jam 12.45 semoga ga delay yah. Ini Garuda Explore ciint, muehehehe (norak !) Trus lanjut nyari travel ke Atambua pengen liat perbatasan Indonesia sama Timor Leste yang fenomenal itu muehehehe. Perkiraan sih nyampe Atambua bakal malem. Explore Atambua hari ke 2 aja yah, yuk mari..

Day 2 (21 Desember 2014)
Explore Atambua sampe siang, dan cus ke kampung terdekat di Kabupaten Belu tempat temen. Mau ngehemat uang disana. Makan, tidur ditanggung. Bahagianyaaa.

Day 3 - Day 4 (22-23 Desember 2014)
Masih stay di kampung buat makan seafood sepuasnya, huahahhaha !

Day 5 (24 Desember 2014)
Cabut ke Kupang, buat ngejar flight ke Ende keesokan harinya jam 6 pagi. Ga boleh bangun telat ini. Bangun telat dikit aja. Die !

Day 6 (25 Desember 2014)
Flight to Ende, yeaaayyyy Ende !! Dijemput sama mobil sewaan buat ke desa Moni buat ke Kawah Kelimutu. Mobil sewaan masih tentatif ya. Sampe detik ini masih nego sama yang punya buat dapetin harga yang murce mericeee, murah meriah. Berhubung BBM naik harga jadi rada rada sarap nih. Biasanya saya ga rewel sama kenaikan BBM, tapi kali ini kesel aja. Kan saya mau jalan jalan ala anak kere hiks. Di Moni stay di Palm Bungalow Homestay miliknya Pak Robert yang baik banget. Insya Allah.

Day 7 (26 Desember 2014)
Naik Kelimutu buat liat kawah 3 warnanya yang keren buat liat sunrise terindah di dunia. Ngopi ngopi cantik dulu di atas Kelimutu sambil makan mie dalam cup styrofoam trus sekitar jam 9 turun lagi ke Desa Moni buat ngelanjutin perjalanan ke Bajawa. Di Bajawa stay di Hotel Bintang Wisata

Day 8 (27 Desember 2014)
Cek out dari hotel lanjut ke Kampung Bena, Bajawa. Liat desa megalitikum di kaki Gunung Inerie. Puas di Kampung Bena lanjut ke Ruteng. Di Ruteng stay di Hotel Susteran Maria Berdukacita yang famous banget di Ruteng

Day 9 (28 Desember 2014)
Finally heading to Labuan Bajo. Semoga lancar semuanya, cuaca bagus Aamiin. Di Labuan bajo 4 malem. 2 malem stay di Hotel Bagus Bagus sebelahnya Paradise Bar, malam ke 3 stay di Golo Hilltop, dan malam ke 4 stay di Greenhill Boutique Hotel. Yah boleh dong yaa nyenengin diri sendiri setelah mengekerenisasi selama berhari hari di Flores.

Day 10 (29 Desember 2014)
One day tour ke Pulau Rinca buat liat sang naga, komodo. Dan ke Pulau Kelor dan Pulau Sabolon buat snorkeling. Plus ada makan siang juga diatas laut. Kapal ini saya pake punya nya Pak Robert yang punya homestay di Moni tadi. Insya Allah lancar, semua sesuai ekspektasi, cuaca bagus. Ya Allah ijinkanlah hamba melihat indahnya ciptaanMu. Aamiin

Day 11 (30 Desember 2014)
Nyantai nyantai bego di Golo Hilltop. Manjain diri. Berenang di pool nya sampe puas. Tidur sampe puas. Liat sunset dari balkon kamar

Day 12 (31 Desember 2014)
Pesta tahun baru di Mediteranneo Cafe, Till drop

Day 13 (1 Januari 2015)
Flight to Denpasar jam 15.45. Bye Floressss !!

Itulah itin fix saya 2 minggu Overland Flores Timor. Doanya cuma satu, semuanya lancar. Mengingat saya udah nyiapin trip heboh ini 5 bulan sebulannya. Fyi, ini juga trip terlama saya. H-19 persiapannya udah 80%, sisanya alhamdulillah udah disiapin. Packing ? Ini juga lagi nyicil packing packing. Tas carrier saya juga mulai turun tahta, yang tadinya nyungsep diatas lemari. Sekarang udah saya taruh di atas meja dengan indahnya muehehe. Selama trip saya bakal bawa celana dalem sekali pake, yang banyak dijual di minimarket. Dan pengganti bra, saya bakal pake bikini. Soalnya bikini lebih mudah dicuci dan mudah kering, dibanding bra. Dan otomatis bisa ngehemat tempat juga. Ga lupa saya juga bawa drybag. Mengingat di beberapa pulau buat snorkeling, kapal ga bisa merapat ke pulau dan mau ga mau kita harus renang renang dikit lah sampe ke pulaunya. Biar bisa foto foto, semua gadget dimasukkin drybag. Okay, doain lancar yah bloggie bloggie yang keceh. Biar nanti saya juga bisa posting cerita seru ke tanah Timor di Blogodok Blegedek, blog kita tercinta. Huihihihi

Oh yaaaaa.... 1 Desember tepat ulangtahunnya mas tercintaaaa. Mas terbaik di dunia, ya iyalah cuma dia doang terpaksa ga ada pilihan hahahahaa !! Mas yang ga lain ga bukan adalah pemilik blog KucingMemancing. Doanya.... lancar dan sukses sekolahnya yaah. Lancar semua urusannya. Sehat selaluuu. Panjang umurnyaaa. Cepet nikah. Istrinya Ghaida JKT48 yaaahhh. Okay okay ngaku, si Mas ini WOTA sejati, tapi dia selalu ngeles kalo dibilang fans alay. Capede. Sukses dengan bandnya HBC48. Happy Birthday ke 25 yah kakak, mas, dan temen terbaik di dunia !!

Birthday man !!
Birthday man, 18 years ago