05/11/2016

Mengenal Olahan Hasil Laut Indonesia Timur


Bicara mengenai olahan hasil laut, Indonesia memang juaranya. Bagaimana tidak ? Indonesia merupakan negara yang memiliki wilayah laut yang sangat luas. Itulah mengapa, sajian olahan hasil laut Indonesia sangat bermacam-macam. Mulai dari bagian barat, utara, bahkan sampai timur pun beraneka ragam. 

Pada tahun 2014 saya berkesempatan untuk mengunjungi salah satu sisi terdepan Indonesia yaitu tepatnya di Kabupaten Malaka, Timor, Nusa Tenggara Timur yang berbatasan langsung dengan negara Timor Leste. Memiliki jarak 16 jam perjalanan dari Kupang. 

Hal pertama yang menarik perhatian saya saat mengunjungi tempat baru pertama kali adalah makanannya. Sebagai daerah pesisir, ikan merupakan lauk pelengkap utama yang dipilih sebagai pendamping makanan pokok. Jangan tanya eksistensi ayam di sini, karena ayam hanya dipotong saat ada acara penting. Bagi masyarakat sekitar, ayam merupakan makanan yang mewah. Sama halnya dengan ayam, nasi bukan makanan pokok utama warga sekitar. Mereka lebih suka menyantap jagung atau sagu sebagai makanan pokok. 

Jagung bose, salah satu olahan jagung sebagai pengganti nasi

Sebagian besar mata pencaharian warga setempat adalah sebagai nelayan. Tidak heran jika ikan sangat digemari disana. Ikan yang sangat sering dimakan adalah jenis ikan terbang dan ikan kembung. Masyarakat sekitar menyebut ikan terbang dengan “ikan Indosi*r” (stasiun TV swasta), dan menyebut ikan kembung dengan “ikan kombong”. Selain 2 ikan tersebut, ada 1 lagi jenis ikan yang cukup mengagetkan saya, ini juga merupakan ikan yang digemari warga sekitar, biasa dimasak kuah asam. Ikan itu adalah hiu. Cukup miris ketika melihat hiu tersebut berada di ember hasil tangkapan nelayan bergabung dengan ikan kecil lainnya. Sayang sekali, masyarakat sekitar masih menganggap hiu sebagai makanan,padahal di luar sana banyak orang yang menyuarakan untuk berhenti menangkap hiu karena hiu bukan makanan.

Ikan kombong

Hasil tangkapan sore itu

Ikan hiu
Kebiasaan warga setempat dalam mengolah makanan cukup berbeda dengan daerah lain di perkotaan. Mereka tidak mengenal bumbu yang beraneka macam seperti masakan Padang atau masakan Bali yang bumbunya cukup medok. Dalam mengolah ikan kuah asam, mereka hanya mengandalkan garam, jeruk nipis, bawang merah, bawang putih dan micin. Ya, sesederhana itu saja. dan semua bumbu tidak ada yang diulek hanya diiris. Tidak heran dengan minimnya bumbu yang digunakan, sajian hiu kuah asam pun masih terasa sedikit amis. Berbeda dengan sajian hiu goreng, amisnya tidak terlalu terasa sehingga saya masih bisa menyantapnya. Walaupun dalam hati terasa bertentangan dan tidak tega. Namun, demi menghormati masyarakat sekitar saya pun harus ikut makan. Sekilas makanannya terlihat jauh dari kata mewah dan sangat sederhana, tapi saya merasakan kenikmatan karena suasana kebersamaan dengan warga sekitar

Hiu goreng
Pada tahun 2015 saya berkesempatan untuk mengunjungi Ternate, Maluku Utara. Ke Ternate belum dikatakan sah jika belum mencicipi papeda. Sama halnya dengan wilayah timur Indonesia yang lain, beras bukan satu-satunya opsi makanan pokok disini. Justru papeda lah yang sangat diminati warga.


Papeda umumnya dimakan dengan ikan kuah kuning. Sistem makan papeda di warung-warung disini adalah all you can eat. Dan di sepanjang meja tidak saya temukan satu olahan pun yang terbuat dari ayam atau hewan lain selain hewan laut. Nampaknya masyarakat tahu cara memanfaatkan kekayaan sumber daya laut yang mereka miliki dengan memaksimalkan mengkonsumsi ikan. Ikan cakalang juga merupakan komoditas utama disini, di sepanjang pasar banyak sekali saya temukan sajian ikan cakalang asap. Biasanya cakalang asap ini nantinya akan diolah lagi. 

Dari Ternate saya menyempatkan diri untuk mampir ke bumi nyiur melambai yaitu Manado. Saya bertolak menuju danau Tondano untuk mencicipi kuliner khas Tondano yaitu perkedel nike. Nike merupakan ikan endemik dari Danau Tondano, bentuknya menyerupai ikan teri namun dengan ukuran yang lebih kecil lagi. Memang, ikan nike bukan merupakan hasil laut karena ikan ini merupakan ikan air tawar. Namun rasanya tidak afdol untuk tidak menceritakan ikan endemik milik Sulawesi Utara selain ikan roa ini. 


Danau Tondano, Sulawesi Utara

Perkedel Nike
Sekilas perkedel nike bentuknya menyerupai bakwan karena memang sama-sama digoreng dalam adonan tepung. Tapi rasanya sangat berbeda dengan bakwan kebanyakan karena adanya ikan nike sebagai bahan utama perkedel nike. Sebelumnya saya cukup bingung kenapa disebut “perkedel” karena sebenernya bentuknya lebih menyerupai “bakwan”. 

Bicara tentang ikan roa, ikan ini memang ikan yang hanya tumbuh di perairan Sulawesi Utara saja. Sehingga sangat gampang ditemukan sajian berbahan dasar ikan roa di Manado dan sekitarnya. Selain itu, ikan roa asap juga merupakan oleh-oleh favorit jika berkunjung ke tanah Sulawesi Utara selain klapeertart. Hal itu lah yang membuat saya membawa ikan roa sebagai buah tangan untuk orang rumah. Ikan roa asap dapat diolah menjadi berbagai macam sajian, antara lain sambal ikan roa yang sangat cocok dimakan dengan pisang goreng. 

Ikan Roa asap sebagai oleh-oleh wajib jika mengunjungi Manado

Sebenarnya masih banyak sajian olahan hasil laut yang dimiliki Indonesia. Mengingat Indonesia adalah negara maritim. Pengalaman saya ini, hanya sebagian kecil saja. Dan masih ada banyak rasa penasaran dalam hati untuk menjajal olahan hasil laut Indonesia dari Sabang sampai Merauke. 

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba Jelajah Gizi 2016

 

2 comments:

  1. Artikel menarik. Jadi pengen icip2 makanannya deh. Untuk saya pribadi mungkin sy lebih suka masakan yang tidak terlalu banyak bumbu, tapi mungkin untuk olahan laut rasa amisnya bakal sangat terasa. Mungkin bisa disiasati dengan minum es jeruk haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, jeruk nipis jadi satu satunya yang diandalkan buat ngusir amis walaupun masih belum bisa maksimal haha

      Delete