15/01/2016

Day 4 : Hari Pertama "Baronda" Di Ternate

Hari ini hari pertama saya eksplor Ternate, Maluku Utara. Ternate yang sering saya dengar saat pelajaran IPS dulu waktu sekolah. Ternate yang terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya. Dan hari ini, saya terbang kesana. Saya sangat bersemangat pagi itu, tapi sayangnya hujan deras mengguyur Makassar pagi itu. Sehingga saya batal jalan kaki menuju halte bus Damri menuju Bandara Hasanuddin. Saya pun pesan taksi dari hotel saja, daripada beresiko ketinggalan pesawat menuju Ternate.

Boleh kali ya selfie dulu saudara-saudara
Terminal keberangkatan Sultan Hasanuddin berbeda 180 derajat dengan terminal kedatangannya yang kurang terawat. Di terminal keberangkatan lebih elegan dan lebih keren desainnya. Bahkan menurut saya ini lebih bagus daripada bandara Ngurah Rai.

Terminal keberangkatan bandara Sultan Hasanuddin 
Jam 11 siang pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantar saya menuju Ternate akan lepas landas. Selamat tinggal Makassar, selamat tinggal Toraja, selamat tinggal Sulawesi Selatan ! Semoga masih ada waktu lagi untuk berkunjung lagi.

Bye Sulawesi Selatan !!
Dapat makan di pesawat, lumayan untuk menghemat biaya makan di Ternate
Almost there ! Ternate
Pesawat landing dengan mulus di Bandara Sultan Babullah, Ternate pukul 1 siang. Sebelumnya saya sudah booking hotel di Ternate yaitu Hotel Boulevard. Harganya 330.000/malam. Amiiik, katanya kamu backpacker kere ? Kok hotelnya semahal itu ? Tenang, tenang nanti saya jawab di akhir postingan tentang Ternate #nyengirkuda. Setelah keluar dari bandara, ada 2 transportasi yang tersedia antara lain ojek dan mobil. Kalau mau naik ojek bloggie bisa berjalan agak keluar bandara dulu, nanti disana akan banyak ojek mangkal. Dan kalau mau naik mobil, dari dalam bandara banyak yang menyediakan. Tips agar murah adalah sharing, disini mobil bisa sharing dengan penumpang lain. Seperti angkot, nanti supirnya akan mencari penumpang sampai mobil penuh. Harganya 50 ribu. Jika ojek harganya 35 ribu. Beda 15 ribu, pilihan di tangan bloggie. Kalau saya naik mobil saja lah, ga panas. Taksi ga ada di Ternate, rugi bikin pangkalan taksi. Ternate adalah kota kecil di kaki gunung Gamalama. Bukan Gunung Gamalama yang terletak di Ternate, tapi Ternate lah yang terletak di Gunung Gamalama. Butuh waktu 1-1,5 jam untuk mengelilingi gunung. Gunung Gamalama itu seperti Anak Krakatau yang tiba-tiba nyembul dari dasar laut, dan Ternate terletak di pinggir pesisirnya. Perpaduan yang harmonis antara gunung dan laut.

Sampai di Hotel Boulevard, saya mengurus kamar dan bayar DP sebesar 500 ribu untuk 2 malam. Dan dapatlah saya kunci kamar nomor 214, beda 2 kamar dengan Wiro Sableng di kamar 212 (abaikan).




Saya menyempatkan untuk rebahan sebentar dan mulai berpikir bagaimana caranya saya untuk keliling Ternate. Saat itu yang terbesit di kepala saya adalah sewa motor. Setelah tanya resepsionis hotel, ternyata mereka tidak bisa mencarikan persewaan motor karena di Ternate jarang ada yang menyewakan motor. Mereka menyarankan untuk nego langsung dengan tukang ojek yang mangkal di depan hotel. Saya ga putus asa, saya coba browsing di internet dengan keyword “Sewa Motor Ternate” namun hasilnya nihil. Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek aja.

Saya berjalan keluar hotel dengan santai, selalu dengan wajah “saya bukan turis” dimana pun berada. Hmm, sebelumnya saya mau kasih tau sesuatu dulu. Setiap jalan-jalan saya selalu punya intuisi tentang kota tujuan saya. Entah kenapa hati saya bisa berbisik kota tersebut aman atau tidak. Dan di Ternate, hati kecil saya berkata kalau Ternate ini aman banget. Itulah kenapa saya bisa jalan dengan luar biasa santainya nyari tukang ojek. IMHO, ini perasaan yang berbeda saat saya berada di Makassar. Di Makassar, rasa waswas itu ada, dan saya ga menyangkalnya.

Akhirnya datanglah tukang ojek di hadapan saya. Fyi, di Ternate ini semua orang berpotensi menjadi tukang ojek. Kalian jalan aja di trotoar sambil celingak celinguk, nanti pasti ada tukang ojek yang nyamperin. Kata temen saya, tukang ojek dadakan begini biasanya lebih murah daripada tukang ojek pangkalan.

“Pak, saya mau keliling Ternate” saya mengawali pembicaraan 
“Oooh, iya baronda yah ?” 
“Hah ? Ya keliling itu pak, yang ke benteng-benteng, ke Danau Tolire, ke Pantai Sulamadaha”
“Iya, baronda sudah” Daripada saya makin roaming dengan pembicaraan ini sambil menerka-nerka arti “baronda”, saya pun langsung tanya sambil harap harap cemas, berapa harga yang ditawarkan. Batas budget saya ga lebih dari 200.000
“Berapa pak keliling ?” 
“200 ribu dek, itu sudah baronda. Sudah dapat semuanya”
“Ga bisa kurang pak ? 150 ribu gitu pak ?” 
“Ga dapet dek, bensinnya aja mahal” 
“Yaudah deh pak, 200 ribu dapet semua yah pak” 
“Iya, baronda itu sudah”

Tanpa memikirkan lebih lanjut tentang baronda, saya langsung naik di boncengan si pak ojek yang ternyata bernama Pak Oslan. Dia orang Gorontalo dan sudah 16 tahun di Ternate. Pak Oslan cukup asik diajak ngobrol, dia ngasih tau informasi tentang sejarah Ternate, kisah dulu Gunung Gamalama meletus pun juga diceritakan. Oh iya, setelah ngobrol panjang lebar akhirnya saya tau arti dari baronda. Baronda artinya jalan memutari gunung Gamalama. Baronda berasal dari kata round yang artinya memutar, dan orang Ternate menambah imbuhan sehingga terbentuklah kata baronda. Selain baronda, kata lain dari memutar gunung adalah baron. Okay, ayo kita baronda !!! Ambil sarung dan kentongan ! Sorry, itu ronda bukan baronda (jayus).

Destinasi pertama baronda sore ini adalah Benteng Tolukko. Ternate identik dengan benteng-benteng peninggalan jaman penjajahan Portugis. Ingat jaman IPS ? Ternate dijajah karena terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya pala, cengkeh, dan kayu manis. Benteng ini terletak di atas bukit, benteng ini merupakan benteng pengawas perdagangan rempah-rempah. Benteng Tolukko termasuk ke dalam benteng yang terawat sangat baik, di halamannya ditumbuhi tanaman bunga-bunga dan rumput yang hijau. Jika dilihat dari atas, benteng Tolukko berbentuk seperti alat kelamin pria. Entah sengaja dibuat begitu atau unsur ketidak sengajaan. Ga tau deh, hahaha.

Pintu masuk Benteng Tolukko
Tampak depan Benteng Tolukko
Denah Benteng Tolukko
Pemukiman di Ternate dilihat dari atas benteng
Gunung Gamalama berkabut
Pemukiman Ternate
Setelah puas menikmati Benteng Tolukko yang tidak terlalu besar ini, saya melanjutkan baronda menuju Pantai Sulamadaha. Dalam perjalanan ke Pantai Sulamadaha, melewati kawasan Batu Angus. Batu Angus merupakan batuan lahar membeku yang dimuntahkan Gunung Gamalama saat meletus jaman dahulu. Batu Angus hampir sama dengan Batu Gosong di Kintamani, Bali. Jika kita naik ke Gunung Batur, maka kita akan melewati kawasan Batu Gosong. Saat itu saya tidak mampir ke Batu Angus, melihat waktu yang semakin sore, takutnya ga kekejar objek yang lain. Lagipula Gunung Gamalama tertutup kabut tebal, sehingga pemandangan di Batu Angus kurang hacep alias kurang pecah.
Kawasan Batu Angus
Kurang lebih 10 menit setelah dari Batu Angus, sampailah saya di Pantai Sulamadaha. Pantai yang terkenal dengan lagunanya, atau yang sering disebut dengan Hol Sulamadaha oleh masyarakat sekitar. Untuk menuju ke lagunanya, harus melewati jalan setapak dahulu, kurang lebih 15 menit sampai setengah jam berjalan kaki maka kita akan sampai di Hol Sulamadaha. Apa yang menarik dari Hol Sulamadaha ? Airnya yang luar biasa bening dan spot yang cocok untuk snorkeling.

Pantai Sulamadaha berpasir hitam
Pulau Hiri berhadapan langsung dengan Pantai Sulamadaha
Jalan setapak menuju hol Sulamadaha
Tadinya saya ingin jalan kaki menuju Hol untuk foto dan melihat seperti apa sih indahnya. Namun kaki saya terasa berat banget, dan tergoda dengan sebuah warung kecil yang berjualan di areal masuk menuju Hol. Bukankah esensi dari liburan itu untuk menikmati suasana daripada mengejar spot foto untuk diposting di instagram ? Hahaha, ini pembelaan banget males jalan dan akhirnya saya nongkrong di warung tersebut. Saya pun pesan pisang goreng khas Ternate yang dimakan pakai sambal. Pisang yang digunakan pisang khusus, bukan pisang biasa. Dan ga akan bisa diduplikat dengan pisang lain. Namanya pisang mulut bebek, memang sih bentuknya sepintas mirip mulut bebek. Di ujung pisangnya mencuat ke atas seperti mulut bebek. Pisang ini warnanya hijau, seperti masih mentah. Selain warnanya hijau, ketika saya pegang pun masih terasa keras. Namun, setelah dikupas, pisangnya berwarna orange kemerahan seperti pisang raja yang sudah matang. Dan cara mengupasnya pun pakai pengupas kulit wortel karena kulit pisang ini keras. Keren.

Pisang mulut bebek
Enak. Udah gitu aja.
Rasanya ? Enak banget banget banget ! Apalagi pisangnya baru selesai digoreng, masih hangat dan ketika dicocol ke sambelnya, bombastis fantastis meledak di mulut. Enak ! Saya ga berhenti mencomot pisang ini bahkan saya sampai minta tambah sambel sama ibu penjualnya. Kalau ke Ternate wajib hukumnya makan pisang mulut bebek, dan saya merekomendasikan makan pisang ini di Pantai Sulamadaha, beli di warung yang letaknya di depan jalan masuk menuju Hol Sulamadaha. Sambelnya enak, dan ibu ini selalu menggorengkan pisang ketika baru dipesan sehingga masih hangat. Recommended !

Setelah kenyang dengan pisang mulut bebek, saya melanjutkan perjalanan ke Danau Tolire. Danau yang terkenal dengan kemagisan dan mitosnya yang jika melemparkan batu maka batu tidak akan bisa menyentuh air danau. Batu akan terlempar ke samping tebing, sekeras apapun mencoba tidak akan bisa menyentuh air. Katanya kalau bisa menyentuh air, keinginan kita bisa terkabul. Dan mitosnya, di danau ini dihuni oleh buaya putih yang merupakan penunggu danau. Kurang serem apa coba Danau Tolire ?



Saat saya kesana, Danau Tolire sepi, hanya ada 1-2 orang saja disana. Mungkin karena sudah kelewat sore dan cuaca yang mendung. Jika tidak ada kabut tebal, maka Gunung Gamalama akan terpampang jelas di depan Danau Tolire ini. Kurang mistis apa coba, kabut tebal, mendung, danaunya super gede dan dalem, airnya tenang, hutan belantara. Bahkan ceritanya, belum ada yang berani mengukur kedalaman Danau Tolire. Katanya dulu ada peneliti dari luar negeri yang mencoba mengukur kedalaman danau ini, tapi ternyata saat menyelam peneliti tersebut tidak kembali ke permukaan dan menghilang.

Legenda terbentuknya Danau Tolire adalah awalnya danau ini adalah perkampungan namun dikutuk karena adanya akibat cinta terlarang antara anak dan ayah hingga si anak hamil. Kemudian perkampungan ini dikutuk menjadi Danau Tolire. Danau Tolire yang dikenal adalah danau Tolire Besar yang merupakan wujud dari si ayah. Dan wujud si anak adalah Danau Tolire Kecil yang merupakan danau kecil dan dangkal di pinggir pantai di pinggir jalan menuju Danau Tolire Besar. 

Setelah bermistis ria di Danau Tolire, saya melanjutkan perjalananan menuju Benteng Kalamata. Perjalanan dari Tolire menuju Benteng Kalamata cukup jauh karena harus memutar gunung. Pada sisi gunung ini sangat jarang ditemukan pemukiman, dan saat itu hanya saya dan tukang ojek saja yang melintas. Saya hanya bisa komat kamit berdoa supaya si bapak ga tergoda kecantikan saya dan melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi Alhamdulillah, terbukti bahwa Ternate itu aman, saya masih utuh hingga detik ini. Ternate aman bloggie, jangan takut !

Kabut tebal menyelimuti Gunung Gamalama
Sepi
Benteng Kalamata memiliki nama asli Benteng Santo Lucia. Benteng ini adalah benteng untuk mengawasi serangan Spanyol untuk menguasai Tidore. Benteng Kalamata berada di dekat Pelabuhan Bastiong, pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Tidore dan Halmahera. Benteng Kalamata terletak menjorok ke tengah laut, dengan lubang-lubang bidikan meriam di dindingnya, saya pun jadi membayangkan pada waktu masa penjajahan.



Berhadapan dengan Pulau Tidore dan Halmahera

Aktivitas di Pelabuhan Bastiong, plebuhan penyeberangan ke Tidore dan Halmahera
Destinasi terakhir baronda hari ini adalah Fort Oranje atau Benteng Orange. Benteng ini terletak di tengah kota dan digunakan sebagai areal berkumpul dan bermain keluarga. Saat sore saya kesana banyak anak-anak muda yang berkumpul, ada yang bermain sepeda, skateboard, sekedar duduk menikmati suasana Ternate di sore hari. Dan kebetulan saat itu sedang ada panggung hiburan dari sebuah bank swasta.Mungkin Benteng Orange semacam Taman Bungkul di Surabaya dan Lapangan Puputan di Denpasar. Bukan tanpa alasan kenapa dinamakan Benteng Orange, memang benteng ini didominasi warna orange.



Bagian dalam Fort Oranje
Selesai sudah baronda hari pertama di Ternate. Dan dalam hari pertama, saya langsung jatuh cinta sama Ternate. Kotanya kecil, tenang, dan sejauh mata memandang adanya laut, laut, dan laut dengan pulau pulau tersebar di sekitarny. Ada pulau Maitara, pulau Hiri, pulau Tidore, pulau Halmahera. Indah ! Dan jika melihat dengan arah yang berlawanan akan melihat Gunung Gamalama yang gagah menjulang tinggi ke langit. Oleh karena itulah, penunjuk arah di Ternate cukup unik. Seperti ini, Ka Bawah, Ka Atas, Ka Lao, Ka Dara. Ka Bawah artinya menuju ke bawah yang artinya ke daerah pesisir. Ka Atas artinya ke atas yang artinya menuju ke arah Kedaton Ternate. Sama halnya dengan Ka Lao dan Ka Dara, Ka Lao artinya ke laut dan Ka Dara artinya ke darat atau ke arah gunung Gamalama.

Bonus pict : Masjid Raya Al Munawarrah, berseberangan dengan hotel Boulevard

NOTE: 
*Perjalananan saya mengelilingi Ternate hari pertama dimulai dari pukul setengah 4 sore dan selesai pukul 6 sore. Jadi jangan ragu untuk langsung keliling explore Ternate walaupun landingnya siang seperti yang saya lakukan.

DAMAGE COST: 
*Mobil dari bandara – hotel : 50.000
*Hotel Boulevard 2 malam : 660.000
*Ojek keliling : 200.000
*Tiket masuk ke Sulamadaha : 4.000
*Tiket masuk ke Benteng Tolukko : 5.000
*Tiket masuk ke Danau Tolire : 8.000
*Jajan pisang mulut bebek di Sulamadaha : 20.000
*Makan malam di KFC Jatiland Mall (depan hotel) : 35.000
Total : IDR 983.000

Day 3 : Makassar City Tour

Bus Alam Indah sampai di Makassar jam 5 pagi, saya turun di perwakilan bus di Jalan Perintis Kemerdekaan dan kemudian saya naik taksi menuju penginapan. Taksi satu satunya moda transportasi subuh begini. Ga usah khawatir nyari taksi bloggie, karena begitu bus berhenti di perwakilan, banyak taksi yang udah ngetem. Sepertinya mereka hafal jam kedatangan bus trans Sulawesi. Kemudian saya naik taksi Metro Makassar menuju hotel, damage cost menuju hotel saya di Jl. Ahmad Yani sebesar 50.000. Murah. 

Selama di Makassar saya menginap di Wisma City Inn dengan harga 190.000/malam. Harga yang cukup miring melihat kualitas hotelnya yang terawat dan bersih. Karena saya cek in jam 5 pagi, maka saya dihitung 2 malam. Tapi buat bloggie yang nekat dan ga mau buang uang untuk 2 malam di hotel, kalian bisa tidur di mesjid sampai tiba waktunya cek in hotel jam 12.00. Tapi karena saya sudah memikirkan hal ini sebelumnya, dan saya mulai merindukan belaian bantal dan kasur, saya ambil opsi untuk early cek in saja daripada tidur di mesjid. 

Kamar di Wisma City Inn bener bener recommended abis, bersih dan nyaman. Begitu masuk kamar, hal pertama yang saya lakukan adalah mencuci baju dan underwear, boro-boro merebahkan badan. Setelah beres mencuci, baru saya siap untuk tidur. Selamat pagi, Makassar !




Washtafel bisa menjadi ember darurat untuk mencuci.
Jemur cucian menghadap AC
Saya terbangun jam setengah 12 siang setelah tertidur hampir 7 jam dan kedinginan luar biasa karena temperatur AC saya pasang paling rendah dan blower maksimal agar jemuran saya cepat kering (tips penting, catet !). Sebenarnya saya tidak terlalu tertarik untuk berkeliling Makassar hari ini, namun rasanya nanggung banget kalo udah sampai Makassar tapi tidak menyempatkan jalan-jalan. Baiklah, rencananya hari ini saya ingin wisata kuliner saja, mengingat saya belum makan siang. Pilihan jatuh kepada Konro Karebosi di Jl. Gunung Lompobattang dan Pisang Ijo Bravo di Jl. Andalas. 

Selama di Makassar, saya mengandalkan aplikasi Gojek. Karena saya pikir toh saya ga tau jalan dan saya ga akan pergi jauh-jauh juga. Total saya naik 3x Gojek dengan biaya masing-masing 15.000, dan naik becak sekali dari Losari menuju hotel seharga 15.000. Fyi, Wisma City Inn letaknya sangat-sangat strategis. Kalau niat dan ada barengan buat jalan kaki, saya bakalan jalan kaki saja dari Losari ke hotel. Tapi mengingat pesan teman-teman yang sudah pernah ke Makassar sebelumnya bahwa jangan jalan sendirian di Makassar apalagi cewe, banyak jambret. Waw. Saya akhirnya naik Gojek kemana-mana.

Sesampainya di Konro Karebosi, ternyata tempatnya penuh banget bloggie. Maklum hari ini hari Minggu. Karena saya sendirian, maka akhirnya dapatlah 1 meja kosong nyempil di pojokan dekat dapur. Ahh ga masalah, yang penting makan. Saya memesan satu paket konro bakar dengan nasi, dan minumnya air mineral botolan. Dan ga lama pesenan saya pun datang, konronya gede banget bloggie. Kalau ga terlalu lapar sepertinya bisa untuk 2 orang. Konro bakar adalah iga sapi yang dibakar dengan bumbu khusus kemudian disiram dengan kuah kacang seperti sate, tapi saya berani bertaruh rasanya beda dengan sate (camkan !). Kemudian dilengkapi dengan kuah yang mirip kuah soto. Saya menyeruput sedikit kuahnya dan mengira rasanya bakal seperti soto, namun saya salah. Rasanya ga bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya satu kata, ENAK !




Makan makanan khas langsung dari tempatnya memang sangat terasa bedanya. Benar-benar otentik enaknya dan beda dengan konro yang dijual di tempat lain yang pernah saya coba sebelumnya. Kalau ingin mencoba menu lain, disini juga disediakan Sop Konro dan Coto Makassar. Tapi saya saat itu hanya tertarik dengan Konro Bakarnya. Jika mau wisata kuliner di Makassar, rasanya tidak cukup hanya 1 hari. Makan satu porsi konro bakar saja sudah mengenyangkan. Satu paket konro bakar dengan nasi ditebus dengan harga 60.000. Setelah makan yang gurih-gurih, saatnya dessert ! Saya memesan Gojek untuk mengantarkan saya menuju Pisang Ijo Bravo yang terkenal di Makassar. Pisang Ijo Bravo terletak di Jl. Andalas, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari Konro Karebosi.

Sesampainya di Pisang Ijo Bravo, saya memesan seporsi Pisang Ijo dan memesan jalangkote. Jalangkote adalah cemilan khas Makassar, sepintas bentuknya mirip dengan pastel, tapi ini beda. Kulitnya lebih tipis, dan isiannya yang membuat jalangkote ini berbeda rasanya dengan pastel biasa. Enak. Jika ingin makanan berat, disini pun disediakan nasi campur, sop buntut, capcay dan gado-gado. Harga yang ditawarkan tidak mahal.

Menu di Warung Bravo 
Pisang Ijo
Jalangkote
Sebagai penggemar pisang ijo, saya sukses dibuat menggelinjang oleh Pisang Ijo Bravo ini saking enaknya. Serius, ini pisang ijo terenak yang pernah saya makan. Kulit hijau yang membalut pisang terasa sangat lembut. Selain pisang, yang menentukan enak atau tidaknya pisang ijo adalah sirupnya. Konon sirup yang digunakan adalah sirup cap DHT, jika bloggie pernah minum sirup tjampolay rasa pisang susu, maka sirup DHT ini rasanya hampir seperti itu. Manis dari sirup cap DHT ini manisnya sangat ringan dan segar, tidak tersisa rasa kemanisan dan eneg setelah meminum sirup dari pisang ijo ini. Saya rekomendasikan Pisang Ijo Bravo ini sebagai pisang ijo paling enak sedunia. Yeah ! Sekedar tips, jika punya waktu banyak luangkanlah untuk membeli sirup DHT ini sebagai oleh-oleh. 

Jalangkote dimakan dengan saus yang berbeda dengan saus botolan. Sausnya lebih encer dan rasanya lebih gurih. Cara makannya, setelah kita gigit jalangkotenya, masukkan sausnya ke dalam jalangkote. Sepintas bentuk sausnya mengingatkan saya dengan saus di Padang yang biasanya dihidangkan dengan bakwan jagung. Yumm !

Setelah kenyang, saya memutuskan untuk menghabiskan waktu berjalan-jalan ke Fort Rotterdam dan Losari. Seperti sebelumnya, saya memesan Gojek untuk mengantarkan saya menuju Fort Rotterdam. Di Fort Rotterdam biaya masuknya tidak dipatok, melainkan seikhlasnya. Saya kasih 10.000 saja, maunya ngasih 5.000 tapi saya ga tega hahaha ! Kere tapi gaya pake ga tega segala. Fort Rotterdam sore itu super rame, taman rumput yang terletak di tengah benteng telah dipenuhi orang-orang yang bersantai di atas rumput. Tempat duduk yang disediakan pun sudah penuh diduduki pengunjung. Saya pun masuk ke museum La Galigo saja, saya selalu suka museum dan sebisa mungkin menyempatkan diri mendatangi museum di kota yang baru saya datangi. Masuk ke museum La Galigo dikenakan biaya 5.000. Di dalam museum disimpan barang-barang yang menceritakan sejarah Makassar.








Cukup menarik melihat-lihat koleksi museum La Galigo karena saya jadi tahu informasi baru tentang Sulawesi Selatan. Mulai dari mata pencaharian masyarakatnya di jaman dahulu, dan kebanggan mereka terhadap kapal phinisi. Setelah puas berkeliling museum, saya kembali keluar dan berkeliling benteng yang cukup luas. Fort Rotterdam merupakan benteng peninggalan kerajaan Gowa Tallo. Konon jika dilihat dari atas maka bentuk Fort Rotterdam ini akan berbentuk seperti penyu yang menghadap ke laut dengan filosofi kerajaan Gowa Tallo akan berjaya di darat dan lautan seperti penyu.

Fort Rotterdam yang ramai
Parkiran Fort Rotterdam
Fort Rotterdam tempatnya bagus dan terawat, jadi tidak ada salahnya jika ke Makassar menyempatkan untuk datang kesini. Tapi sayang sekali vandalisme saya temukan di salah satu sudut benteng.
Fery, Manajemen UIN Alauddin Makassar 2015
Setelah puas berkeliling di Fort Rotterdam, saya melanjutkan perjalanan menuju Losari dengan berjalan kaki. Jarak dari Fort Rotterdam ke Pantai Losari itu deket banget. Jadi kalau ada mamang becak nawarin tumpangan dan mengatakan jaraknya jauh, JANGAN PERCAYA. Fyi, saya lupa dengan pesan teman saya untuk tidak berjalan sendirian di Makassar. Alhamdulillah saya tidak dijambret seperti yang dikhawatirkan teman-teman. Tipsnya mudah saja, jangan mendekap tas secara berlebihan. Itu akan memberi tanda bahwa barang di dalam tas kita itu berharga, dan bukan berarti jangan terlalu lengah juga. Yang wajar saja, berjalanlah normal seperti tidak terjadi apa-apa, jangan lupa pasang wajah “saya bukan turis”


Sultan Hasanuddin, Ayam Jantan Dari Timur
Tulisan Fort Rotterdam pun tak luput dari vandalisme
Keluar dari Fort Rotterdam berjalanlah ke arah kiri, lurus saja jangan belok-belok maka kita akan sampai di Losari, pantai yang menjadi kebanggan masyarakat Makassar.


Setelah berjalan santai selama 10 menit, sampailah saya di Pantai Losari yang terkenal itu. Jika trotoar mulai dipenuhi penjual pisang epe dan kursi berjejer rapi, serta pemandangan ke laut sudah tidak terhalang bangunan lagi, maka sampailah kita di Pantai Losari.

Penjual pisang epe dan wedang saraba khas Makassar


Hari itu hari Minggu dan Pantai Losari dipenuhi wisatawan baik lokal maupun dari luar kota. Maksud hati ingin mencicipi pisang epe, apa daya perut saya ga mau berkompromi lagi dimasukkan makanan setelah konro bakar, pisang ijo, dan jalangkote. Akhirnya saya hanya lihat dari kejauhan saja si pisang epe. Pisang setengah matang yang dijepit sampe gepeng dan disiram saus gula merah. Yumm !


Tulisan Pantai Losari yang iconic tertutup orang-orang yang berkunjung


Katanya sunset di Losari itu juara banget dan salah satu sunrise terbaik, tapi sayangnya mendung sehingga saya ga bisa lihat sunset juara itu. Selain nongkrong di anjungan sambil liat debur ombak, eh salah di Losari ga ada debur ombak, lautnya tenang bloggie. Kita bisa naik bebek air berkeliling Losari sambil ditemani lagu-lagu cinta berirama melayu dari ST 12, Wali, Asbak Band, Kangen Band, Hijau Daun, Matta Band dan band band lainnya yang namanya ga terpikir di kepala saya. Puas berkeliling di Losari, dan hari mulai gelap saya pun pulang ke hotel dengan naik becak.

NOTE: 
Wisma City Inn Jalan Ahmad Yani No. 34, Makassar (letaknya di ruko di belakang KFC Ahmad Yani) 0411 – 3631168 Rate : 190.000 – 250.000

DAMAGE COST : 
*Hotel 2 malam : 190.000 x 2 : 380.000
*Konro bakar Karebosi : 60.000
*Gojek 3x : 45.000
*Pisang Ijo Bravo : 30.000
*Tiket masuk Rotterdam : 10.000
*Tiket masuk museum La Galigo : 5.000
*Becak dari Losari – hotel : 15.000
Total : IDR 545.000

Bonus pict : Repacking !