Showing posts with label ternate. Show all posts
Showing posts with label ternate. Show all posts

15/01/2016

Day 5 : Hari Kedua Explore Ternate, Makin Cinta Ternate !

Hari ini rencananya saya ingin wisata kuliner khas Ternate seperti Popeda (papeda) dan Gohu Ikan alias sashimi ala Ternate, ikan tuna segar dipotong dadu dan dicampur dengan perasan jeruk nipis, kemangi, dan bahan bahan lainnya. Keuntungan menginap di Hotel Boulevard adalah hotel ini letaknya sangat strategis. Terletak di Ruko Jatiland Bussiness Center, hotel ini berhadapan langsung dengan Jatiland Mall. Mall terbesar di Ternate setelah Ternate Mall. Selain Jatiland Mall, hotel ini juga berhadapan dengan masjid terbesar di Ternate, Masjid Al Munawarrah. Dan hotel ini dekat dengan kawasan Tapak, yaitu kawasan wisata kuliner malam hari yang berada di pinggir laut. Selain itu hotel Boulevard juga dekat dengan pasar tradisional, Pasar Higienis Bahari Berkesan. Di sini terdapat warung popeda yang cukup tenar, Warung Gamalama. Jadi, tidak rugi sama sekali menginap di hotel Boulevard. Lokasinya sangat strategis dan aman bagi solo traveler kaya saya.

Jam 11 siang saya keluar dari hotel jalan kaki, rencananya saya mau jalan kaki saja ke Pasar Higienis mau berburu Popeda. Tapi sebelumnya tiba-tiba saya teringat dengan Restoran Floridas yang terkenal dengan viewnya yang langsung ke arah Pulau Maitara. Saya memutuskan untuk nongkrong sebentar disana dulu. Kemudian saya mencari ojek yang bisa mengantarkan saya kesana. Dari hotel menuju resto Floridas cukup jauh, karena resto Floridas berada di jalan menuju Danau Ngade. Saat saya lagi jalan, tiba-tiba ada sesosok kang ojek yang nyamperin saya sambil menunjukkan jempolnya (isyarat ala kang ojek kalo nawarin tumpangan). Saya liatin dari atas sampe bawah sosok kang ojek ini karena saya sedikit ga yakin dengan perawakannya yang rapi abis gini masa sih tukang ojek. Udah gitu saya menangkap aura kegantengan dibalik helmnya, mirip mirip Ernest Prakasa tapi ini versi pribumi, “Ini ga mungkin tukang ojek” batin saya.

“Mas tukang ojek ?” Sumpah ini pertanyaan bodoh #LOL
“Iya mba, mau kemana ?” Wuanjriiit, high quality kang ojek ini mah namanya 
“Resto Floridas, mas. Tau ga ?” 
“Ahh iya tahu kok mba, mari saya antar” Duh sopan banget.
“Berapa ?” 
“50 ribu ya mba ? Agak jauh soalnya” 
“Iya mas, tapi tungguin saya yah. Saya mau makan bentar disana” 
“Iya mba”

Naiklah saya di boncengan tukang ojek ini, wangi abis. Matih, gugup abis nih diboncengin #dikeplak. Dan sejak saat itu, fix maksimal saya jadi fans Ernest Prakasa karena mengingatkan saya sama kang ojek Ternate yang fenomenal ini.

Wangi....
Gunung Gamalama di depan mata
Akhirnya sampailah saya di bangunan yang kelihatannya lagi direnovasi. Yah, ternyata Restoran Floridas lagi direnovasi. Gagal deh nongkrong sambil ngeliatin Pulau Maitara.
 “Mba tadinya mau makan disini ?” 
“Mau foto aja sih, Mas” 
“Yasudah, mari saya anter masuk aja, biar mba bisa foto” Aaaakkk baiknyaaaa !! #menggelepar
Akhirnya berkat kemachoan di kang ojek ini saya berhasil masuk ke restoran Floridas yang lagi direnovasi ini. Dan seandainya lagi ga direnovasi, ini tempat kece. Bisa liat laut lepas dan Pulau Maitara di tengahnya.

Pulau Maitara
Diambil dari Restoran Floridas
Setelah puas menjepret, saya keluar bersama tukang ojek.
 “Abis ini mau kemana lagi ? Mari saya antar” 
Tanpa mikir panjang lagi “Hari ini saya booking ya mas” 
“Bisa, bisa mba. Seharian sama saya mba”
Waseeeekkk #menggelepar

Kemudian tanpa basa basi saya langsung menunjukkan foto di instagram yang memperlihatkan view Pulau Maitara dan Danau Ngade dalam 1 frame. Saya ingin diantar kesana. Kemudian si mas ojek ini mencoba menganalisa dimana posisi pengambilan fotonya. Dan dia bersedia mengantarkan saya menuju view point Danau Ngade dan Pulau Maitara. Dalam perjalanan kami ngobrol dan barulah saya tahu kalau ternyata mas ojek ini bukan orang Ternate, melainkan orang Padang yang pindah ke Jakarta kemudian pindah ke Halmahera Timur. Keliatan sih dari awal dari logatnya yang tidak terlalu kental aksen timurnya. 

“Saya Firman” 
“Ohh, saya Ami” 

Ngojek di Ternate ini hanya mengisi waktu luang, dia kerja di PT. Antam (Aneka Tambang) di Halmahera Timur. Pantesan, dia mah bukan potongan tukang ojek. Too good to be “kang ojek”. Sambil ngobrol ngobrol, saya celingukan mencari view point yang kira-kira pas dengan foto di instagram. Dan mata saya tertuju ke sebuah reruntuhan rumah yang terbengkalai. Kami pun berhenti disana. Untuk menuju view point Danau Ngade, kalian harus masuk ke dalam gang yang berada di sebelah Danau Ngade, jalannya nanti akan menanjak. Ikuti saja terus sampai nanti kiranya menemukan tanah lapang untuk melihat view Danau Ngade dan Pulau Maitara. Karena tidak ada papan penunjuk, jadinya kita harus peka sendiri menentukan view pointnya.


Ternyata benar, disini pemandangannya hacep abis alias pecah abis. Saya jadi malas untuk beranjak turun. Seandainya bawa nasi bungkus, saya mau mau aja makan di sini sambil menikmati pemandangan.
Danau Ngade dan Pulau Maitara di kejauhan
Numpang mejeng dulu authornya
Karena sudah menunjukkan jam makan siang, saya pun terpaksa turun dan minta diantarkan ke warung makan yang menyediakan popeda. Saya sih hanya ingin coba-coba aja, kalau nanti ga doyan baru cari nasi campur untuk makan siang. Wajib hukumnya makan popeda kalau ke Ternate.


Dalam perjalanan, kami melewati sebuah tanah kosong yang sedikit menjorok ke arah laut. Dan dengan inisiatifnya Mas Firman memberhentikan motor disana, “Disini bagus buat foto-foto mba”. Fix, Mas Firman ini kang ojek yang informatif dan aktif. Saya pun segera turun dari motor dan segera foto-foto seperti saran dari Mas Firman.


Di Ternate, orang-orang terbiasa untuk hidup tanpa beras. Banyaknya pengganti nasi sebagai makanan pokok membuat mereka tidak ketergantungan dengan nasi. Contohnya saja popeda yang bahan bakunya berupa tepung sagu, kemudian ada singkong dan ubi rebus. Beda dengan saya, yang harus ditubruk nasi dulu baru bisa dikatakan makan.

Pelabuhan barang Ternate
Tempat yang terkenal menyajikan popeda berada di bagian belakang Pasar Higienis, Ternate. Disini akan ada satu gang yang isinya warung popeda. Dan ketika jam makan siang, bakal dipenuhi orang-orang.




Akhirnya kami sampai di komplek warung popeda, dan benar saja semua warung penuh. Dan Mas Firman benar benar selektif memilihkan warung popeda untuk saya. Ketika ditawari untuk sharing meja dengan pengunjung lain, mas Firman menolak dan berusaha mencarikan warung popeda untuk saya. Good service !!. Setelah tidak begitu lama, kami dapat meja di sebuah warung. Saya pun mengajak Mas Firman untuk ikut makan bersama saya, karena saya tidak tahu cara makan popeda dan butuh guide hahaha ! (serius ini bukan modus) 


Di sebuah meja panjang, terhidang piring-piring kecil dengan berbagai jenis makanan. Seperti kondimen di Korea, piring-piring tersebut adalah makanan pendamping untuk makan popeda. Ada ikan kuning, pisang rebus, singkong rebus, daun pepaya, sambel kacang, sambel dabu-dabu dan beberapa makanan lain yang saya ga tau itu apaan. Sistemnya disini all you can eat, satu orang 30.000. Cukup murah bukan ? Makin cinta sama Ternate !

Makan popeda ditemenin Mas Firman, yeah

Karedok ala Ternate, enak banget
Untuk makan popeda dilengkapi dengan kuah. Ada 3 jenis kuah yang disediakan, kuah kuning, kuah asam, dan satu lagi saya lupa nama kuahnya. Saya memilih menggunakan kuah kuning. Kemudian cara memindahkan popeda ke piring adalah dengan menggunakan sumpit dengan cara diputar putar kemudian dipindahkan ke piring.

Lagi memperagakan cara memindahkan popeda ke piring
Awalnya saya hanya mengambil sedikit popeda ke piring saya, karena takut nanti ga doyan. Akhirnya saya menyuapkan suapan pertama ke mulut saya. Dan, beyond expectation ! Rasanya sumpah enak banget, rasanya light di mulut. Kuah kuning yang menjadi pilihan saya pun sangat segar, papeda dan kuah kuning rasanya langsung meluncur ke tenggorokan saya. Kemudian tidak ragu lagi saya mengambil popeda lebih banyak ke piring . Sampai akhirnya saya habis hingga 2 piring. Saya sendiri pun masih belum percaya, saya doyan popeda ! Mas Firman mengajarkan saya untuk mencampur makanan di meja dengan popeda, pilihan saya tertuju kepada seonggok pisang rebus. Dan voila, jadilah kombinasi absurd, ikan kuah kuning, popeda, dan pisang rebus dalam satu piring. Rasanya enak-enak aja, saya ga merasa aneh.

Perpaduan popeda, pisang rebus, ikan kuah kuning. Enak
Resmi sudah saya jadi orang Ternate, saya sudah makan popeda hahaha. Tapi sayangnya saya belum berkesempatan mencicipi gohu ikan. Karena hidangan ini sedikit susah ditemukan dijual, kalau mau mencobanya harus minta dibuatkan oleh warga setempat. Ahh ga masalah, berarti nanti akan ada kunjungan ke Ternate kedua haha !


Setelah kenyang, kami melanjutkan perjalanan menuju Kedaton Sultan Ternate. Usut punya usut ternyata Mas Firman ini juga belum pernah ke Kedaton, jadinya ini adalah kali pertama kami mengunjungi Kedaton Sultan Ternate. Sambil mencari-cari pintu masuknya, sampailah kami di sebuah gerbang yang dijaga oleh 2 orang, saat ditanya buka atau tidak, ternyata jawabannya buka. Yeay ! Lucky me ! Soalnya, Kedaton ini hanya dibuka saat-saat tertentu saja. Ketika ada Sultan, kedaton tidak boleh dimasuki umum karena digunakan sebagai tempat tinggal raja. Namun jika Sultan sedang tidak ada di rumah maka boleh dibuka untuk umum, itupun hanya hari tertentu saja.

Pintu masuk Kedaton Ternate


Untuk masuk ke dalam Kedaton harus lewat belakang, tidak boleh lewat dari depan. Karena pintunya dikunci. Nanti dibelakang kita akan bertemu dengan juru kuncinya, tinggal bilang saja mau lihat-lihat nanti akan dipersilakan masuk. Sebelum masuk, kita harus melepas alas kaki terlebih dahulu, kemudian si bapak juru kunci akan komat kamit di depan pintu sebelum pintu dibuka. Jangan lupa ucapan “Assalamualaikum” atau “Permisi”

Sejak Sultan Ternate ke 48, Mudaffar Sjah meninggal, maka belum ada yang menggantikan posisi Sultan Ternate sampai sekarang, sehingga kedudukan Sultan masih kosong. Oleh karena itu ini merupakan saat yang tepat untuk mengunjungi Kedaton Ternate, karena belum ditempati oleh Sultan. Karena nanti jika sudah ada Sultan, maka rumah ini akan menjadi tempat tinggal beliau dan akan ditutup untuk umum. Konon katanya, di Kedaton tersimpan sebuah mahkota milik Sultan dari jaman dahulu yang memiliki rambut, dan rambut itu dapat tumbuh. Rambut yang tumbuh hanya dapat dipotong pada saat tertentu saja.



Kalau bendera kuningnya diturunkan berarti Sultan tidak berada di Kedaton
Penghargaan dari MURI

Bule aja datang ke Kedaton
Karena areal yang terbuka untuk umum terbatas, maka kami tidak terlalu lama di dalam sana. Kami pun pamit undur diri kepada juru kunci setelah sebelumnya memberi infaq seikhlasnya di tempat yang telah disediakan. Kemudian Mas Firman mengantarkan saya kembali ke hotel, sedih rasanya harus berpisah. Toh saya sudah mengelilingi Ternate, ga tau harus kemana lagi. Sesampainya di depan hotel, mas Firman bilang,”Nanti malam kalau mau keluar telpon aja yah ? Udah satu paket untuk hari ini, dan besok pun dianter ke bandara juga udah sepaket sama hari ini” HUAPAAAHH !! Dibanding Pak Oslan kemarin yang cuma muter doang trus malemnya saya ditelantarin, sedangkan ini paketnya sampe besok. Seneng banget saya hahaha ! #menggelepar. Dan saya pun buat janji sama Mas Firman kalau malam ini saya minta ditemenin makan di daerah Tapak. Yes sip !

Bobok siang
Jam 7 malam saya dijemput Mas Firman, dan masih sama dengan wanginya yang khas menyambut saya di motor #menggelepar. “Jalan-jalan dulu ya, liat Ternate malam hari”, mas Firman ngajak keliling-keliling dulu sebelum makan di Tapak. Sekalian cari oleh-oleh makanan khas Ternate untuk upeti orang rumah biar dibukain pintu.


Siluet Gunung Gamalama di malam hari.
Malam itu saya diajak keliling melihat Ternate di malam hari. Mas Firman menjelaskan tentang jalan di kota Ternate yang mudah banget dan ga akan membuat orang tersesat. Karena saking kecil kotanya, maka dalam seminggu saja pasti bisa hafal jalanan. Dalam perjalanan keliling-keliling, saya di Whatsapp bapak yang titip minta dibawakan batu halmahera hijau. Oh my God, akik.

“Mas, kalo malem masih ada yang buka ga ya toko batu ?” 
“Mau beli batu ya ?” –bukan, mau beli pepes-
“Iya, batu halmahera. Aduh aku ga ngerti hahaha” 
“Ahh gampang, nanti biar saya yang pilihin yang bagus”
Gila, ini mah kang ojek gadungan serba bisa, jadi guide oke, jadi temen ngobrol oke, jadi tukang batu akik pun oke. High quality ini mah !

Batu bacan yang dipegang itu seharga 700 ribu
Mas Firman asik milih batu
"Yak, tembus senternya ya om !" kalimat si mamang batu

Sepintas kaya sampel marmer di kantor
Dari satu lapak ke lapak yang lain. Nawar sana nawar sini, nyenter sana nyenter sini. Ternyata emang ribet milih batu yah. Ampun deh. Dan tadi waktu milih batu sempet dikira istrinya hahaha ! Ahh lupakan, bloggie hahaha ! #menggelepar. Akhirnya dapatlah 3 bongkah batu untuk bapak sebagai oleh-oleh. Batu berkualitas kece, yang udah dipilih Mas Firman dengan susah payah. Setelah mendapatkan oleh-oleh batu dan kue khas Ternate, bagea dan makron (kue dari sagu dengan rempah-rempah) kami menuju ke kawasan Tapak untuk makan malam. Kawasan Tapak sering disebut dengan Swering.
Nasi goreng ternate dilengkapi dengan ikan cakalang, enak !
Air Goraka
Kami ngobrol panjang lebar ditemani air goraka dan pisang mulut bebek. Air goraka mirip seperti bajigur kemudian ditaburi kenari cincang diatasnya, lumayan enak. Kemudian pisang mulut bebek disini cukup berbeda dengan yang di Sulamadaha, karena pelengkapnya selain sambal ada ikan teri dan kacang goreng (tau gitu saya pesan nasi putih saja, hahaha)

Di Ternate, makin malam makin rame. Saya pikir ini kota kecil yang udik dan ga akrab dengan dunia malam. Tapi buktinya sudah jam 12 malam malah semakin ramai, kursi-kursi di sebelah kami yang tadinya kosong mulai terisi penuh. Jika saya tidak ingat kalau besok harus melanjutkan perjalanan ke Manado dengan flight pagi jam 9, saya bisa ngobrol sampai pagi dengan Mas Firman. Akhirnya jam setengah 1 kami pulang, mas Firman mengantarkan saya sampai ke hotel.

Repacking
Terima kasih Ternate untuk semua keramah tamahannya. Salah satu kota yang menurut saya ramah dengan pendatang. Saya merasa seperti di rumah sendiri. Kalau saja saya tidak bekerja di bidang yang membutuhkan pembangunan, saya pasti sudah hijrah ke Ternate. Sempat terlintas untuk kerja di NGO saja haha, ahh entahlah. Ternate terlalu indah untuk ditinggalkan. Terima kasih untuk Mas Firman yang udah nemenin saya seharian jalan-jalan, andai saja ketemu Mas Firman di hari pertama saya sampai Ternate. Terima kasih sudah jadi guide, teman ngobrol, sudah mengantarkan kemana-mana. Two thumbs up ! Servis yang memuaskan sekali, semoga rejekinya makin banyak, Aamiin. Siapa tau bloggie ke Ternate, bisa hubungin Mas Firman di nomor 081219100100. Siapa tau mas Firman lagi di Ternate dan bisa handle tamu. Tapi kalau mas Firman lagi di Halmahera Timur berarti ga jodoh, kalau mau ketemu samperin aja ke Maba, Halmahera Timur. Alternatif lain call saja Pak Oslan, ojek saya di hari pertama di nomor 082227175836.

DAMAGE COST :
*Makan popeda : 30.000
*Makan malam di Tapak : 75.000
*Ojek Mas Firman : 200.000
*Infaq Kedaton Ternate : 20.000
Total : IDR 325.000

Day 4 : Hari Pertama "Baronda" Di Ternate

Hari ini hari pertama saya eksplor Ternate, Maluku Utara. Ternate yang sering saya dengar saat pelajaran IPS dulu waktu sekolah. Ternate yang terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya. Dan hari ini, saya terbang kesana. Saya sangat bersemangat pagi itu, tapi sayangnya hujan deras mengguyur Makassar pagi itu. Sehingga saya batal jalan kaki menuju halte bus Damri menuju Bandara Hasanuddin. Saya pun pesan taksi dari hotel saja, daripada beresiko ketinggalan pesawat menuju Ternate.

Boleh kali ya selfie dulu saudara-saudara
Terminal keberangkatan Sultan Hasanuddin berbeda 180 derajat dengan terminal kedatangannya yang kurang terawat. Di terminal keberangkatan lebih elegan dan lebih keren desainnya. Bahkan menurut saya ini lebih bagus daripada bandara Ngurah Rai.

Terminal keberangkatan bandara Sultan Hasanuddin 
Jam 11 siang pesawat Sriwijaya Air yang akan mengantar saya menuju Ternate akan lepas landas. Selamat tinggal Makassar, selamat tinggal Toraja, selamat tinggal Sulawesi Selatan ! Semoga masih ada waktu lagi untuk berkunjung lagi.

Bye Sulawesi Selatan !!
Dapat makan di pesawat, lumayan untuk menghemat biaya makan di Ternate
Almost there ! Ternate
Pesawat landing dengan mulus di Bandara Sultan Babullah, Ternate pukul 1 siang. Sebelumnya saya sudah booking hotel di Ternate yaitu Hotel Boulevard. Harganya 330.000/malam. Amiiik, katanya kamu backpacker kere ? Kok hotelnya semahal itu ? Tenang, tenang nanti saya jawab di akhir postingan tentang Ternate #nyengirkuda. Setelah keluar dari bandara, ada 2 transportasi yang tersedia antara lain ojek dan mobil. Kalau mau naik ojek bloggie bisa berjalan agak keluar bandara dulu, nanti disana akan banyak ojek mangkal. Dan kalau mau naik mobil, dari dalam bandara banyak yang menyediakan. Tips agar murah adalah sharing, disini mobil bisa sharing dengan penumpang lain. Seperti angkot, nanti supirnya akan mencari penumpang sampai mobil penuh. Harganya 50 ribu. Jika ojek harganya 35 ribu. Beda 15 ribu, pilihan di tangan bloggie. Kalau saya naik mobil saja lah, ga panas. Taksi ga ada di Ternate, rugi bikin pangkalan taksi. Ternate adalah kota kecil di kaki gunung Gamalama. Bukan Gunung Gamalama yang terletak di Ternate, tapi Ternate lah yang terletak di Gunung Gamalama. Butuh waktu 1-1,5 jam untuk mengelilingi gunung. Gunung Gamalama itu seperti Anak Krakatau yang tiba-tiba nyembul dari dasar laut, dan Ternate terletak di pinggir pesisirnya. Perpaduan yang harmonis antara gunung dan laut.

Sampai di Hotel Boulevard, saya mengurus kamar dan bayar DP sebesar 500 ribu untuk 2 malam. Dan dapatlah saya kunci kamar nomor 214, beda 2 kamar dengan Wiro Sableng di kamar 212 (abaikan).




Saya menyempatkan untuk rebahan sebentar dan mulai berpikir bagaimana caranya saya untuk keliling Ternate. Saat itu yang terbesit di kepala saya adalah sewa motor. Setelah tanya resepsionis hotel, ternyata mereka tidak bisa mencarikan persewaan motor karena di Ternate jarang ada yang menyewakan motor. Mereka menyarankan untuk nego langsung dengan tukang ojek yang mangkal di depan hotel. Saya ga putus asa, saya coba browsing di internet dengan keyword “Sewa Motor Ternate” namun hasilnya nihil. Akhirnya saya putuskan untuk naik ojek aja.

Saya berjalan keluar hotel dengan santai, selalu dengan wajah “saya bukan turis” dimana pun berada. Hmm, sebelumnya saya mau kasih tau sesuatu dulu. Setiap jalan-jalan saya selalu punya intuisi tentang kota tujuan saya. Entah kenapa hati saya bisa berbisik kota tersebut aman atau tidak. Dan di Ternate, hati kecil saya berkata kalau Ternate ini aman banget. Itulah kenapa saya bisa jalan dengan luar biasa santainya nyari tukang ojek. IMHO, ini perasaan yang berbeda saat saya berada di Makassar. Di Makassar, rasa waswas itu ada, dan saya ga menyangkalnya.

Akhirnya datanglah tukang ojek di hadapan saya. Fyi, di Ternate ini semua orang berpotensi menjadi tukang ojek. Kalian jalan aja di trotoar sambil celingak celinguk, nanti pasti ada tukang ojek yang nyamperin. Kata temen saya, tukang ojek dadakan begini biasanya lebih murah daripada tukang ojek pangkalan.

“Pak, saya mau keliling Ternate” saya mengawali pembicaraan 
“Oooh, iya baronda yah ?” 
“Hah ? Ya keliling itu pak, yang ke benteng-benteng, ke Danau Tolire, ke Pantai Sulamadaha”
Iya, baronda sudah” Daripada saya makin roaming dengan pembicaraan ini sambil menerka-nerka arti “baronda”, saya pun langsung tanya sambil harap harap cemas, berapa harga yang ditawarkan. Batas budget saya ga lebih dari 200.000
“Berapa pak keliling ?” 
“200 ribu dek, itu sudah baronda. Sudah dapat semuanya”
“Ga bisa kurang pak ? 150 ribu gitu pak ?” 
“Ga dapet dek, bensinnya aja mahal” 
“Yaudah deh pak, 200 ribu dapet semua yah pak” 
“Iya, baronda itu sudah”

Tanpa memikirkan lebih lanjut tentang baronda, saya langsung naik di boncengan si pak ojek yang ternyata bernama Pak Oslan. Dia orang Gorontalo dan sudah 16 tahun di Ternate. Pak Oslan cukup asik diajak ngobrol, dia ngasih tau informasi tentang sejarah Ternate, kisah dulu Gunung Gamalama meletus pun juga diceritakan. Oh iya, setelah ngobrol panjang lebar akhirnya saya tau arti dari baronda. Baronda artinya jalan memutari gunung Gamalama. Baronda berasal dari kata round yang artinya memutar, dan orang Ternate menambah imbuhan sehingga terbentuklah kata baronda. Selain baronda, kata lain dari memutar gunung adalah baron. Okay, ayo kita baronda !!! Ambil sarung dan kentongan ! Sorry, itu ronda bukan baronda (jayus).

Destinasi pertama baronda sore ini adalah Benteng Tolukko. Ternate identik dengan benteng-benteng peninggalan jaman penjajahan Portugis. Ingat jaman IPS ? Ternate dijajah karena terkenal dengan kekayaan rempah-rempahnya pala, cengkeh, dan kayu manis. Benteng ini terletak di atas bukit, benteng ini merupakan benteng pengawas perdagangan rempah-rempah. Benteng Tolukko termasuk ke dalam benteng yang terawat sangat baik, di halamannya ditumbuhi tanaman bunga-bunga dan rumput yang hijau. Jika dilihat dari atas, benteng Tolukko berbentuk seperti alat kelamin pria. Entah sengaja dibuat begitu atau unsur ketidak sengajaan. Ga tau deh, hahaha.

Pintu masuk Benteng Tolukko
Tampak depan Benteng Tolukko
Denah Benteng Tolukko
Pemukiman di Ternate dilihat dari atas benteng
Gunung Gamalama berkabut
Pemukiman Ternate
Setelah puas menikmati Benteng Tolukko yang tidak terlalu besar ini, saya melanjutkan baronda menuju Pantai Sulamadaha. Dalam perjalanan ke Pantai Sulamadaha, melewati kawasan Batu Angus. Batu Angus merupakan batuan lahar membeku yang dimuntahkan Gunung Gamalama saat meletus jaman dahulu. Batu Angus hampir sama dengan Batu Gosong di Kintamani, Bali. Jika kita naik ke Gunung Batur, maka kita akan melewati kawasan Batu Gosong. Saat itu saya tidak mampir ke Batu Angus, melihat waktu yang semakin sore, takutnya ga kekejar objek yang lain. Lagipula Gunung Gamalama tertutup kabut tebal, sehingga pemandangan di Batu Angus kurang hacep alias kurang pecah.
Kawasan Batu Angus
Kurang lebih 10 menit setelah dari Batu Angus, sampailah saya di Pantai Sulamadaha. Pantai yang terkenal dengan lagunanya, atau yang sering disebut dengan Hol Sulamadaha oleh masyarakat sekitar. Untuk menuju ke lagunanya, harus melewati jalan setapak dahulu, kurang lebih 15 menit sampai setengah jam berjalan kaki maka kita akan sampai di Hol Sulamadaha. Apa yang menarik dari Hol Sulamadaha ? Airnya yang luar biasa bening dan spot yang cocok untuk snorkeling.

Pantai Sulamadaha berpasir hitam
Pulau Hiri berhadapan langsung dengan Pantai Sulamadaha
Jalan setapak menuju hol Sulamadaha
Tadinya saya ingin jalan kaki menuju Hol untuk foto dan melihat seperti apa sih indahnya. Namun kaki saya terasa berat banget, dan tergoda dengan sebuah warung kecil yang berjualan di areal masuk menuju Hol. Bukankah esensi dari liburan itu untuk menikmati suasana daripada mengejar spot foto untuk diposting di instagram ? Hahaha, ini pembelaan banget males jalan dan akhirnya saya nongkrong di warung tersebut. Saya pun pesan pisang goreng khas Ternate yang dimakan pakai sambal. Pisang yang digunakan pisang khusus, bukan pisang biasa. Dan ga akan bisa diduplikat dengan pisang lain. Namanya pisang mulut bebek, memang sih bentuknya sepintas mirip mulut bebek. Di ujung pisangnya mencuat ke atas seperti mulut bebek. Pisang ini warnanya hijau, seperti masih mentah. Selain warnanya hijau, ketika saya pegang pun masih terasa keras. Namun, setelah dikupas, pisangnya berwarna orange kemerahan seperti pisang raja yang sudah matang. Dan cara mengupasnya pun pakai pengupas kulit wortel karena kulit pisang ini keras. Keren.

Pisang mulut bebek
Enak. Udah gitu aja.
Rasanya ? Enak banget banget banget ! Apalagi pisangnya baru selesai digoreng, masih hangat dan ketika dicocol ke sambelnya, bombastis fantastis meledak di mulut. Enak ! Saya ga berhenti mencomot pisang ini bahkan saya sampai minta tambah sambel sama ibu penjualnya. Kalau ke Ternate wajib hukumnya makan pisang mulut bebek, dan saya merekomendasikan makan pisang ini di Pantai Sulamadaha, beli di warung yang letaknya di depan jalan masuk menuju Hol Sulamadaha. Sambelnya enak, dan ibu ini selalu menggorengkan pisang ketika baru dipesan sehingga masih hangat. Recommended !

Setelah kenyang dengan pisang mulut bebek, saya melanjutkan perjalanan ke Danau Tolire. Danau yang terkenal dengan kemagisan dan mitosnya yang jika melemparkan batu maka batu tidak akan bisa menyentuh air danau. Batu akan terlempar ke samping tebing, sekeras apapun mencoba tidak akan bisa menyentuh air. Katanya kalau bisa menyentuh air, keinginan kita bisa terkabul. Dan mitosnya, di danau ini dihuni oleh buaya putih yang merupakan penunggu danau. Kurang serem apa coba Danau Tolire ?



Saat saya kesana, Danau Tolire sepi, hanya ada 1-2 orang saja disana. Mungkin karena sudah kelewat sore dan cuaca yang mendung. Jika tidak ada kabut tebal, maka Gunung Gamalama akan terpampang jelas di depan Danau Tolire ini. Kurang mistis apa coba, kabut tebal, mendung, danaunya super gede dan dalem, airnya tenang, hutan belantara. Bahkan ceritanya, belum ada yang berani mengukur kedalaman Danau Tolire. Katanya dulu ada peneliti dari luar negeri yang mencoba mengukur kedalaman danau ini, tapi ternyata saat menyelam peneliti tersebut tidak kembali ke permukaan dan menghilang.

Legenda terbentuknya Danau Tolire adalah awalnya danau ini adalah perkampungan namun dikutuk karena adanya akibat cinta terlarang antara anak dan ayah hingga si anak hamil. Kemudian perkampungan ini dikutuk menjadi Danau Tolire. Danau Tolire yang dikenal adalah danau Tolire Besar yang merupakan wujud dari si ayah. Dan wujud si anak adalah Danau Tolire Kecil yang merupakan danau kecil dan dangkal di pinggir pantai di pinggir jalan menuju Danau Tolire Besar. 

Setelah bermistis ria di Danau Tolire, saya melanjutkan perjalananan menuju Benteng Kalamata. Perjalanan dari Tolire menuju Benteng Kalamata cukup jauh karena harus memutar gunung. Pada sisi gunung ini sangat jarang ditemukan pemukiman, dan saat itu hanya saya dan tukang ojek saja yang melintas. Saya hanya bisa komat kamit berdoa supaya si bapak ga tergoda kecantikan saya dan melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi Alhamdulillah, terbukti bahwa Ternate itu aman, saya masih utuh hingga detik ini. Ternate aman bloggie, jangan takut !

Kabut tebal menyelimuti Gunung Gamalama
Sepi
Benteng Kalamata memiliki nama asli Benteng Santo Lucia. Benteng ini adalah benteng untuk mengawasi serangan Spanyol untuk menguasai Tidore. Benteng Kalamata berada di dekat Pelabuhan Bastiong, pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Tidore dan Halmahera. Benteng Kalamata terletak menjorok ke tengah laut, dengan lubang-lubang bidikan meriam di dindingnya, saya pun jadi membayangkan pada waktu masa penjajahan.



Berhadapan dengan Pulau Tidore dan Halmahera

Aktivitas di Pelabuhan Bastiong, plebuhan penyeberangan ke Tidore dan Halmahera
Destinasi terakhir baronda hari ini adalah Fort Oranje atau Benteng Orange. Benteng ini terletak di tengah kota dan digunakan sebagai areal berkumpul dan bermain keluarga. Saat sore saya kesana banyak anak-anak muda yang berkumpul, ada yang bermain sepeda, skateboard, sekedar duduk menikmati suasana Ternate di sore hari. Dan kebetulan saat itu sedang ada panggung hiburan dari sebuah bank swasta.Mungkin Benteng Orange semacam Taman Bungkul di Surabaya dan Lapangan Puputan di Denpasar. Bukan tanpa alasan kenapa dinamakan Benteng Orange, memang benteng ini didominasi warna orange.



Bagian dalam Fort Oranje
Selesai sudah baronda hari pertama di Ternate. Dan dalam hari pertama, saya langsung jatuh cinta sama Ternate. Kotanya kecil, tenang, dan sejauh mata memandang adanya laut, laut, dan laut dengan pulau pulau tersebar di sekitarny. Ada pulau Maitara, pulau Hiri, pulau Tidore, pulau Halmahera. Indah ! Dan jika melihat dengan arah yang berlawanan akan melihat Gunung Gamalama yang gagah menjulang tinggi ke langit. Oleh karena itulah, penunjuk arah di Ternate cukup unik. Seperti ini, Ka Bawah, Ka Atas, Ka Lao, Ka Dara. Ka Bawah artinya menuju ke bawah yang artinya ke daerah pesisir. Ka Atas artinya ke atas yang artinya menuju ke arah Kedaton Ternate. Sama halnya dengan Ka Lao dan Ka Dara, Ka Lao artinya ke laut dan Ka Dara artinya ke darat atau ke arah gunung Gamalama.

Bonus pict : Masjid Raya Al Munawarrah, berseberangan dengan hotel Boulevard

NOTE: 
*Perjalananan saya mengelilingi Ternate hari pertama dimulai dari pukul setengah 4 sore dan selesai pukul 6 sore. Jadi jangan ragu untuk langsung keliling explore Ternate walaupun landingnya siang seperti yang saya lakukan.

DAMAGE COST: 
*Mobil dari bandara – hotel : 50.000
*Hotel Boulevard 2 malam : 660.000
*Ojek keliling : 200.000
*Tiket masuk ke Sulamadaha : 4.000
*Tiket masuk ke Benteng Tolukko : 5.000
*Tiket masuk ke Danau Tolire : 8.000
*Jajan pisang mulut bebek di Sulamadaha : 20.000
*Makan malam di KFC Jatiland Mall (depan hotel) : 35.000
Total : IDR 983.000